RESUME PERTEMUAN 6 (AGAMA)

ِ ﻦْ ﻴَﺗَ ﺩﺎَ ﻬﱠ ﺸﻟﺍ ِ ﻝْ ﻮُﺒَﻗ ُﻁْ ﻭُ ﺮُ ﺷ

Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain

Kunci Sorga

  • Dalamatsardisebutkan

ُحﺎَﺘْ ﻔِﻣ ُﻪﱠﻠﻟا ﱠ ﻻِإ َﻪَﻟِإ  َ ﻻ َﺲْﻴَﻟَأ ٍﻪﱢﺒَﻨُﻣ ِ ﻦْﺑ ِ ﺐْﻫَﻮِﻟ َﻞﻴِﻗﻰَﻠَـﺑ  َ لﺎَﻗ ِﺔﱠﻨَﺠْﻟا

DitanyakankepadaWahabbin

Munabbih, “Bukankahlaailaaha

illallahitu merupakankuncisurga?”

Wahabmenjawab, “Benar,”

 

Syahadat yang Memenuhi Syarat

  • Syahadatyang memenuhisyaratitu

sepertikunciyang punyagigi

  • Apabilasatugigikuncipatah, maka

kuncitidakdapatdigunakan

  • Begitupun syaratsyahadatain, harus

terpenuhisemuanya, tidakbolehada

yang rusak.

SYARAT PERTAMA:

ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN

(ِ ﻞْ ﻬَ ﺠْﻠِﻟ ْ ﻲِﻓ ﺎَﻨُ ﻤْﻟَﺍ ُ ﻢْﻠِ ﻌْﻟَﺍ)

  • Seseorangyang bersyahadatharusmemilikiilmu

tentangsyahadatyang diucapkannya

  • Orangyang bersyahadattanpamengetahui

makna/kandungansyahadattidakditerima

  • 3:18 bahwayang diakuisyahadat(persaksian)-nya

 

Syahadat Orang yang Berilmu

  • Syahadatorangyang berilmu

disejajarkandengansyahadatnyaAllah

danmalaikat

  • Ditempatkannyasyahadatorangyang

berilmusetelahsyahadatnyamalaikat

merupakanpujiandariAllah

–Syahadatnyamantapsekali

–Paling dekatdenganAllah

hanyatigapihak: Allah, malaikat, danorang-orang

yang berilmu

PerbaharuiImandengan  ُ ﷲ ﱠ ﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ َ ﻻَﻝﺎَﻗ ﺎَ ﻧَ ﻧﺎَ ﻣﻳِﺇ ُ ﺩﱢ ﺩَ ﺟُ ﻧ َ ﻑْ ﻳَ ﻛَ ﻭ ِﱠﷲ َﻝﻭُ ﺳَ ﺭ ﺎَ ﻳ َﻝﻳِﻗ ْ ﻡُ ﻛَ ﻧﺎَ ﻣﻳِﺇ ﺍﻭُ ﺩﱢ ﺩَ ﺟُﷲ ﱠ ﻻِﺇ َ ﻪَﻟِﺇ َ ﻻ ِ ﻝْ ﻭَﻗ ْ ﻥِ ﻣ ﺍﻭُ ﺭِ ﺛْ ﻛَﺃ

“Perbaharuilahiman kalian.” Dikatakan, “Duhai

Rasulullah, bagaimanakamimemperbaharuiiman

kami?” BersabdaRasulSAW, “Perbanyaklah

mengucapkanُ ﷲ ﱠ ﻻِﺇ َ ﻪَﻟِﺇ َ ﻻ” (HR Ahmad)

  • Banyakmengucapkantanpamengetahuimaknanya,

tidakakandapatmenghayatinya, sehinggatidak

berpengaruhdalammemperbaharuiiman

Bukti: JIHAD

  • Jikakalbutelahmerasakanlezatnya iman dan

kegandrungankepadanyasertatelahmengakar,

niscayaakanmendoronguntukmewujudkan

kebenaranitu diluar kalbu

  • Kalaurealitasdiluar kalbubertentangandengan

iman, makaia akanberjihaddenganhartadan

jiwanya

  • JIHAD adaduakomponen

–Sungguh-sungguh(ٌﺔﱠ ﻳﱢ ﺩِ ﺟ)

–Terus-menerus(ٌﺔﱠ ﻳِﺭ ﺍَ ﺭَ ﻣِ ﺗْ ﺳِﺇ)

Inilah Iman yang Benar

  • َ ﻥﻭُﻗِ ﺩﺎﱠ ﺻﻟﺍ ُ ﻡُ ﻫ َ ﻙِ ﺋَ ﻟﻭُﺃ (merekaitulahorangorangyang benar)

– َ ﻥْ ﻭُ ﻧِ ﻣْ ﺅُ ﻣ ْ ﻡُ ﻬﱠ ﻧِﺇ (merekalahyang disebut

mu’min)

–Bukanseperti sebagianorangbadui

(49:14) yang belumberagamasecara

baik, masihperkataanlahiriahnya saja

KEIKHLASAN YANG MENGHILANGKAN

KEMUSYRIKAN

  • Orangyang telahbersyahadatharusmenjadi

orangyang mukhlis

–Murni, bersih, suci, dariberbagaikotoran

(kemusyrikan), baikkemusyrikanyang kecil

maupunyang besar

  • Sudahdijelaskandimateri“al-walawal-bara”

tentangkandunganlaa ilaaha illallah, yang

mengharuskanmenghabisiilah selainAllah,

sampaikeakar-akarnya

Masih Syirik, Tidak Diterima

  • Kalau masih ada syirik, maka syahadatnya

tidak akan diterima

  • Karena kita tidak diperintahkan kecuali

untuk beribadah kepada Allah dengan

memurnikan ketaatan

–98:5  َ ﻦﻳﱢ ﺪﻟﺍ ُﻪَﻟ َ ﻦﻴِ ﺼِﻠْ ﺨُ ﻣ

–18:110 ﺍً ﺪَ ﺣَﺃ ِ ﻪﱢﺑَ ﺭ ِ ﺓَ ﺩﺎَﺒِ ﻌِﺑ ْ ﻙِ ﺮْﺸُﻳ ﻻَ ﻭ

KETULUSAN (KEBENARAN) YANG

MENGHILANGKAN KEBOHONGAN

  • Ketulusan atau kejujuran atau kebenaran dan

tidaknya syahadat seseorang itu dengan ujian

–29:2-3 anggapan yang salah bahwa akan dibiarkan

begitu saja mengatakan beriman tanpa diuji

–2:214 anggapan yang salah bahwa masuk surga itu

mudah tanpa harus melewati berbagai ujian

  • Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta

digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)

  • Kegoncangan itu sampai Rasul dan pengikutnya meradang

kepada Allah: Bila datangnya pertolongan?

Hakikat Ujian (Ibtila’/Fitnah)

  • Ujian itu sifatnya pasti (2:155)
  • Ujian itu untuk memisahkan antara yang mu’min dan yang

munafik (3:179), antara yang benar dan yang dusta (29:3)

  • Ujian akan sampai pada tingkat yang paling dahsyat

–Seperti Perang Ahzab yang digambarkan oleh Allah

  • mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu
  • tidak tetap lagi penglihatan (mu)
  • hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan
  • kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam

purbasangka

ﺍً ﺩﻳِ ﺩَ ﺷ ﻻﺍَ ﺯْﻟِﺯ ﺍﻭُﻟِﺯْﻟُ ﺯَ ﻭ َ ﻥﻭُ ﻧِ ﻣْ ﺅُ ﻣْ ﻟﺍ َ ﻲِﻠُ ﺗْ ﺑﺍ َ ﻙِﻟﺎَ ﻧُ ﻫ

Islamophobia

  • Barat sangatantipatipadaIslam
  • KebencianmerekakepadaIslam diwujudkandengan

berbagaituduhan(terorisme, fundamentalisme) dan

peperangan(Irak, Somalia, Afghanistan, Palestina,

dll)

  • TapiBarat yang kafirberbuatbegitu, wajar
  • Bagaimanakalauorangyang bersyahadattapitidak

menyukaisyariatIslam, curigaterhadapumatIslam

sendiri, bahkanikut mengelompokkanIslam kedalam

terorisme? Bagaimanasyahadatnya?

PENERIMAAN YANG MENGHILANGKAN

PENOLAKAN

  • Orang yang bersyahadat harus menerima

segala konsekuensi dari syahadat yang

diucapkan Adanya JUAL-BELI dengan Allah

–9:111 Allah membeli orang beriman jiwa

dan hartanya dengan sorga

–61:10-13 perniagaan yang dapat

menyelamatkan dari api neraka

  • Beriman kepada Allah dan RasulNya
  • Berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa

Diri dan Harta Milik Allah

  • Diri dan harta kita bukan milik kita

tapi milik Allah harus digunakan

menurut Pemiliknya

  • Kalau kita menggunakannya tidak

sesuai dengan Pemiliknya berarti

telah berkhianat

  • Ini tidak ada tawar menawar (33:36)

Iman dan Amal

  • Allah SWT selalumengaitkanimandenganamalshalih
  • Orangmunafiksukanyapasif(duduk) danmeninggalkanjihad

(9:83) dengan1001 alasan:

–Merasaberat(9:38)   ِ ﺽْ ﺭﻷﺍ ﻰَﻟِﺇ ْ ﻡُﺗْﻠَ ﻗﺎﺛﺍ

–Ridhokepadakehidupandunia(9:38) ﺎَ ﻳْﻧﺣ ﺩﻟﺍ ِ ﺓﺎَ ﻳَ ﺣْﻟﺎِﺑ ْ ﻡُﺗﻳِ ﺿَ ﺭَﺃ

–Cenderungkepadadunia(7:176)   ِ ﺽْ ﺭﻷﺍ ﻰَﻟِﺇ َﺩَﻠْ ﺧَﺃ

–Mengikutihawanafsu(7:176) ُﻩﺍ َ ﻭَ ﻫ َ ﻊَ ﺑﺗﺍَ ﻭ

–Keuntungannyamasihlama (9:42) ﺎً ﺑﻳِﺭَ ﻗ ﺎً ﺿَ ﺭَ ﻋ

–Jaraknyajauh(9:42) ﺍً ﺩِ ﺻﺎَ ﻗ ﺍً ﺭَ ﻔَ ﺳَ ﻭ

–Hawanyapanas(9:81)  ﱢ ﺭَ ﺣْ ﻟﺍ ﻲِﻓ ﺍﻭُﺭِﻔْ

Rahmatan lil-’Alamin

  • Mu’min yang benar adalah mu’min yang

produktivitasnya tinggi

  • Karena produktif, maka surplus
  • Karena surplus, maka bukan hanya orang

Islam saja yang mendapatkan manfaat, tapi

juga manusia lainnya, bahkan alam semesta

  • Mu’min seperti inilah yang dapat menjadi

rahmat bagi semesta alam (21:108)

Kesimpulan

  • Agar syahadat kita diterima maka harus

didukung oleh ilmu, keyakinan,

keikhlasan, ketulusan, kecintaan,

penerimaan, dan pelaksanaan

  • Kebodohan, keraguan, syirik, dusta,

benci, menolak, dan pasif adalah hal-hal

yang membuat syahadat tidak diterima

39 Pertemuan VI

Ridho

  • Jika semua persyaratan itu terpenuhi,

maka pasti akan RIDHO diatur oleh

–Allah

–Rasul

–Islam

di setiap keadaannya (76:30)

ﻰَ ﺿﱢ ﺮﻟَﺍ

Kerelaan

 

 

RIDHO (ﻰَ ﺿﱢ ﺮﻟَﺍ)

  • KalaucintanyasangattinggikepadaAllah (2:165), tentudia

akanRIDHO kepadaAllah

  • Apapunyang dikehendakiolehyang dicintaitentuiaridho

menerimanya(76:30)

ُﱠﷲ َ ءﺎَ ﺷَ ﻳ ْ ﻥَﺃ  ﻻِﺇ َ ﻥﻭُ ءﺎَ ﺷَ ﺗ ﺎَ ﻣَ ﻭ

Dan kamutidakmampu(menempuhjalanitu), kecualibila

dikehendakiAllah.

  • Tiadaseorangpun yang mampumemberihidayahkepada

dirinyadantiadapula mampumemasukkanimankedalam

hatinyasertatiadayang mampumendatangkanmanfaat

bagidirinyakecualibiladikehendakiAllah kitaharus

menyesuaikandengankehendakAllah danMENERIMAN

APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH = RIDHO

Yang DikehendakiAllah

  • Yang dikehendakiAllah ada3 macam

1.Yang dikehendakiAllah TERHADAP DIRI

KITA (ﺎَ ﻧِﺑ ُﷲ ُﻩَ ﺩﺍَ ﺭَﺃ ﺎَ ﻣ)

2.Yang dikehendakiAllah TERHADAP

ALAM SEMESTA (ِ ﻥْ ﻭَ ﻛْﻟﺎِﺑ ُﷲ ُﻩَ ﺩﺍَ ﺭَﺃ ﺎَ ﻣ)

3.Yang dikehendakiAllah DARI DIRI KITA (ﺎﱠ ﻧِ ﻣ ُﷲ ُﻩَ ﺩ ﺍَ ﺭَﺃ  ﺎَ ﻣ)

QadhadanTakdir

( ُ ﺭَ ﺪَﻘْﻟﺍَﻭ ُ ءﺎَ ﻀَﻘﻟَﺍ)

  • Semuahalyang ghaibitutertuangdidalamQADHA

danTAKDIR Allah SWT

  • Para ulamaberbedapendapatdalammengartikan

qadhadantakdir, adayang bertukaranantarasatu

ulamadanulamalainnya

  • QADHA: ketentuanAllah sejakzamanazali(alam

belumada)

  • TAKDIR: realisasidariqadha
  • Misalnya: menurukqadhaAllah besokkita

mendapatkanrizkiyang banyak; pas rizkiitudatang

itulahtakdir

  • Qadhadantakdirada2: baik(ni’mat) danburuk

(bencana) 21:35 sebagaiUJIAN

47 Pertemuan VI

SyukurdanSabar

  • Apapuntakdiryang menimpakitaharusridho
  • Realisasiridhomenerimatakdir

Syukur dan Sabar

  • Apapuntakdiryang menimpakitaharusridho
  • Realisasiridhomenerimatakdir

–Takdirbaiksyukur

–Takdirburuksabar

  • Keduanyaadalahsifatmu’minyang mengagumkan

ْ ﻥِﺇ ِ ﻥِ ﻣْ ﺅُ ﻣْﻠِﻟ  ﻻِﺇ ٍ ﺩَ ﺣَِ ﻷ َ ﻙﺍَﺫ َ ﺱْ ﻳَﻟَ ﻭ ٌ ﺭْ ﻳَ ﺧ ُ ﻪﱠﻠُ ﻛ ُﻩَ ﺭْ ﻣَﺃ ﱠ ﻥِﺇ ِ ﻥِ ﻣْ ﺅُ ﻣْ ﻟﺍ ِﺭْ ﻣَِ ﻷ ﺎً ﺑَ ﺟَ ﻋﺍً ﺭْ ﻳَ ﺧ َ ﻥﺎَ ﻛَﻓ َ ﺭَ ﺑَ ﺻ ُ ءﺍﱠ ﺭَ ﺿ ُ ﻪْ ﺗَ ﺑﺎَ ﺻَﺃ ْ ﻥِﺇَ ﻭ ُ ﻪَﻟ ﺍً ﺭْ ﻳَ ﺧ َ ﻥﺎَ ﻛَﻓ َ ﺭَ ﻛَ ﺷ ُ ءﺍﱠ ﺭَ ﺳ ُ ﻪْ ﺗَ ﺑﺎَ ﺻَُ ﻪَﻟ

Menakjubkanperkaraorangberimansebabsegalakeadaannyabaikdantidak

mungkinterjadiyang demikianmelainkanbagiseorangmu’min: apabila

mendapatkankemudahanbersyukurmakaitu baikbaginya, danapabiladitimpa

kesusahanbersabarmakaitu baikbaginya(HR. Muslim)

MengambilHikmah

(ُﺔَ ﻤْ ﻜِ ﺤْﻟَﺍ)

  • SikapmenerimaqadhadantakdirAllah itulahsikap

mu’mintulentidakmempertanyakanperbuatan

Allah, tidakmenuduhAllah yang macam-macam,

tidakberburuksangkaterhadapAllah (48:6)

  • Sikapberikutnyaadalahmengambilhikmahdari

segalayang menimpadirinya

  • Allah telahmemberitahuaparahasiadibaliksemua

musibah(baikatauburuk) yang terjadidibumidan

didalamdirikita(57:22-23):

–BahwasemuanyasudahtertulisdiLAUH MAHFUZH

–Realisasiyang tertulisbagiAllah itumudah

–Tujuandibalikmusibah: agar tidakputusasaterhadap

apayang hilangdantidaksombongterhadapyang

diterima

50

Doa dan Takdir

  • Seringadapertanyaan: apaperlunyakitaberdoa

sementaraqadha-qadarsudahtertulis?

  • Hal yang mendasar: DOA adalahibadah, bahkan

otaknyaibadah( ِ ﺓَ ﺩﺎَ ﺑِ ﻌْ ﻟﺍ ﱡ ﺦُ ﻣ ُ ءﺎَ ﻋﱡ ﺩﻟَﺍ), karena

diperintahkanolehAllah (40:60)

  • Kedua: doadanusahatidakpernahberpisah!

Sedangkanhasil, itu hakAllah, kitadiperintahkan

untukTAWAKKAL kepadaAllah saja

  • Adapuntentangdoadanpengabulannya, perhatikan

Uraianselanjutnya

Doa

  1. Adayang langsungdikabulkan(CASH)

– Misalnyamintalulus, ternyatalulus

  1. Adayang ditangguhkanbeberapalama

– Hikmah: saatdikabulkan, ni’matnyalebihterasaatau

tepatpadawaktunya

  1. Adayang digantidenganmenghindarkandari

bencana

– Mintarizki, laludikabulkandapatRp1 juta; tapidapat

musibahyang biayanya1 jutajuga

– Manayang dipilih? Terhindardarimusibahituatau

dapatrizkitapidapatmusibah?

– Kita tidaktahumanayang baikbuatkita, tapiAllah

lebihtahu(2:216)

  1. Dibayardiakhirat

AlamPengalaman(ُﺔَﺑِ ﺮْ ﺠﱠﺘﻟﺍ ُ ﻢَﻟﺎَ )

  • Semuafenomenaalamitudapatdipalajari, bukan

halyang rahasia(ghaib)

  • Jadi, apayang dikehendakiAllah tidaklangsung

kitaketahuisecarajelas(alamsyahadah)

  • Di sinilahkitadiperintahkanolehAllah untuk

–Berpikir

–Melakukanpercobaan(eksperimen)

–Menganalisis

–Menyimpulkan

  • 3:190-191 ULUL ALBAB: dzikirdanpikir

60 Pertemuan VI

HukumAlam(ِ ﻥْ ﻮَ ﻜْ ﻟﺍ ﻲِﻓ ِ ُﺔﱠﻨُ )

  • Hasilpenelitian-penelitianyang terus-menerusakhirnyadapat

menangkapapayang dikehendakiAllah dialamsemestaini

ternyatasemuaituadahukum-hukumyang mengaturalam

(ِ ﻥْ ﻭَ ﻛْ ﻟﺍ ﻲِﻓ ِﷲ ُﺔﱠ ﻧُ ﺳ)

–Adanyahukumgravitasibumi

–Hukumtermodinamika

–Hukum-hukumkimia

–Aliranlistrikkarenaaliranelektronyang bermuatannegatif

danproton yang bermuatanpositif

–dll

KetentuanSyari’at( ﻲِ ﻋْ ﺮﱠ ﺸﻟَﺍ ُ ﺮْ ﻳِ ﺪْ ﻘﱠﺘﻟَﺍ)

  • BerbahagialahumatIslam karenamasalahkehendakAllah

darikitasangatlahjelas, karenasemuanyatertuangdalam

ketentuan-ketentuansyari’at

  • 5:48 Allah telahmemberikankepadasetiapumatduahal:

syari’atdanminhaj(jalanmenegakkansyari’at)

  • Ulamapun mampumengkodifikasikeinginan-keinginan

Allah yang berkaitandenganhukum-hukumamalpraktis,

yakniFIQH

  • Ulamapun merumuskandasar-dasarAKIDAH danAKHLAK
  • SemuanyaberdasarkanAl-Qur’an danAs-Sunnah

66 Pertemuan VI

PelaksanaanSyari’at

  • JadiAllah menghendakidarikitauntukmelaksanakansyari’atsyari’at-Nya(5:49) danmenegakkanagamaNya(42:13)
  • RasulullahSAW menegaskanbahwayang halalitujelasdan

yang harampun jelas; diantarakeduanyaadaperkarayang

samar-samar(mutasyabihat) mestiberhati-hati

  • Islam yang ditinggalkanRasuladalahIslam yang terang:ﺎَ ﻫِﺭﺎَ ﻬَ ﻧَ ﻛ ﺎَ ﻬُﻠْ ﻳَ ﻟ ِ ءﺎَ ﺿْ ﻳَ ﺑْ ﻟﺍ ﻰَﻠَ ﻋ ْ ﻡُ ﻛُ ﺗْ ﻛَ ﺭَ ﺗ ْ ﺩَﻗ

Sungguhakutelahmeninggalkanuntukkalian pelitayang

terang(Islam), malamnyasepertisiangnya

(HR. IbnuMajahdanAhmad)

ﻰَﻨْ ﻌَﻣ ُ ﻖْ ﻴِﻘْ ﺤَﺗِ ﻦْ ﻴَﺗَ ﺩﺎَ ﻬﱠ ﺸﻟﺍ

RealisasiMaknaSyahadatain(1)

 

RealisasiMaknasySyahadatain

  • Syahadatyang kitaucapkanbukansekedar

pernyataan, tapisekaligussumpahdanjanjikita

kepadaAllah SWT

–Syahadatadalahproklamasikeislamankita

–Syahadatadalahsumpahsetiakita

–Syahadatadalahjanjisetiakita

  • Iaperlurealisasisebagaikonsekuensidari

proklamasi, sumpahdanjanjitersebut

  • Sehinggaia bukanpernyataankosong, sumpah

palsudanjanji-janjibelaka

74 Pertemuan VI

HubunganMu’mindanAllah

  • Setelahseseorangbersyahadatmakahubungan

dirinyadenganAllah SWT menjadikuat

  • Dirinyaterikatdenganhubunganinidenganikatan

yang sangatkuatyang tidakakanterputus(2:256)ﺎَ ﻬَ ﻟ َﻡﺎَ ﺻِﻔْ ﻧﺍ َ ﻻ ﻰَﻘْﺛُ ﻭْ ﻟﺍ ِ ﺓَ ﻭْ ﺭُ ﻌْﻟﺎﺑ َ ﻙَ ﺳْ ﻣَ ﺗْ ﺳﺍ ِ ﺩَﻘَﻓ

makasesungguhnyaiatelahberpegangkepadabuhul

taliyang amatkuatyang tidakakanputus

  • Adatigahubunganyang harusdijaga:

–Hubungancinta

–Hubunganperniagaan

–Hubungankerja

75 Pertemuan V

HubunganCinta(ُﺔﱠﺒَ ﺤَ ﻤْﻟَﺍ)

  • HubungancintakitadenganAllah setelahbersyahadat

haruslahkuatcintayang sempurna(2:165)

  • RealisasicintakitadenganAllah:

–MengikutiRasulullah(3:31)

–MenatacintakitaterhadapselainAllah: mencintaiorang

danapasajayang dicintaiAllah danmembenciorangdan

apasajayang dibenciAllah lihatkembalimateri

“Mahabbatullah”, “MaratibulHubb”, dan“Lawazimul

Mahabbah”

–Beranimenanggungresikocinta: berjihaddanberkorban

(49:15)

  • CintakitakepadaAllah adalahcintayang pastiberbalas

(3:31)

76

PosisidalamPerniagaan

  • Layaknyasebuahjual-beliatauperniagaanpada

umumnya, makaharusmemenuhiunsur-unsurnya

  1. Pembeli( ْ ﻱِﺭَ ﺗْ ﺷُ ﻣْﻟَﺍ): ALLAH SWT
  2. Penjual( ُ ﻊِ ﺋ ﺎَ ﺑْﻟَﺍ): MU’MIN
  3. Barangyang dijual: HARTA DAN JIWA (ُﻝ ﺍَ ﻭْ ﻣَﻷَﺍُ ﺱُﻔْ ﻧَﻷْ ﺍَ ﻭ)
  4. Harganya: SORGA DAN RIDHO (ﻰَ ﺿﱢ ﺭﻟﺍَ ﻭ ُﺔﱠ ﻧِ ﺟْﻟَﺍ)
  5. Pasarnya: JIHAD ( ُ ﺩ ﺎَ ﻬِ ﺟْﻟَﺍ)
  6. Ijab-qabulnya: SYAHADATAIN

 

Harganya: SORGA dan RIDHO

  • Hargayang dibayarkanolehAllah SWT adalahsorgadanridhoNya
  • Ketikabai’atul‘aqabahAbdullah bin RawahahberkatakepadaRasul

SAW, “BerilahpersyaratanbagiTuhanmudanbagidirimusesuka

hatimu.” MakaRasulullahbersabda, “Akumemberikansyaratbagi

Tuhanku, hendaklahkalian menyembahNyadanjanganlahkalian

mempersekutukanDiadengansesuatupun. Dan akumemberikan

syaratbagidiriku, hendaklahkalian membelakusebagaimana

kalian membeladiridanhartabendakalian sendiri.” Para sahabat

bertanya, “Apakahyang kamiperolehjikakamimengerjakanhal

tersebut?” Beliaumenjawab, “Sorga.” Merekamenjawab, “Jualbeli

yang menguntungkan, kamitidakakanmundurdantidakakan

mengundurkandiri.” Laluturunlah9:111

SemboyanKita

  • Apabilakitasudahmemahamikonsepjihad ini

danmelakukannya, makaberartisudah

memahamisemboyankita:

ﺎَ ﻧُﻠْ ﻳِﺑَ ﺳ ُ ﺩ ﺎَ ﻬِ ﺟْﻟَﺍ

JIHAD JALAN KITA

Landasan Jihad

  • LandasandalamkitaberjihadadalahSYAHADAT ( ُﺓَ ﺩﺎَ ﻬﱠ ﺷﻟَﺍ)
  • Karenatidakadaartinyajihad yang tidakikhlas
  • Ingathaditsyang menyebutkan3 orangyang pertamadihisab:

mujahid, dermawan, danqari’ (ahliQur’an) ketiganya

masuknerakakarenajihad untukdisebutpahlawan,

berdermasupayadisebutdermawan, danmengajarkanilmu

danQur’an agar disebutqari’-’alim

  • KetikaRasulullahditanyaapayang disebutfisabilillah, maka

beliaumenolakjihad karenaashabiyah(fanatisme) atau

karenaingindisebutpemberani, lalubersabda, “Siapayang

berperanguntukmeninggikankalimatAllah, itulahsabilillah.”

Dari Syahadat MenujuSyahid

  • Kehidupanmu’minitu terrangkaidalamuntaianyang

indah antarasyahadatdansyahid

–Iamemulaidengansyahadatsehinggadirinya

ikhlas danittaba’ kepadaRasulullahSAW

–Kehidupannyadiisidenganjihad total, sehingga

umurnyapenuhberkah

–IamengakhirinyadengansyahiddijalanAllah

  • Itulahgambaranindah seorangmu’min

َ ﻥﻮُﺒِﺋﺎﱠﺘﻟﺍ(Yang Bertobat)

  • Orangyang kembalikepadaAllah sambilmeminta

ampunanatasdosamereka

  • Tobatadalah

–perasaanmenyesalatasperbuatanmasalalu

–bertawajjuhkepadaAllah padausiayang masih

ada

–menahandiridaridosa, dan

–beramalsholehsebagairealisasitobat

  • Makatobatadalahpenyucian, pembersihan,

penyerahandirikepadaAllah dankesholehan

َ ﻥﻮُ ﺤِﺋﺎﱠ ﺴﻟﺍ(Yang Melawat)

  • Adabeberapapenafsiran:

–Orangyang berhijrah

–Para mujahid

–Orangyang pergijauhuntukmenuntutilmu

–Orang-orangyang berpuasa

  • Termasukjugaorang-orangyang tafakkurterhadapciptaan

Allah dansunnah-sunnahNyasepertipada3:190-191

  • Bukanuntuksekedarmerenungdanmengambilibrah, tapi

untukmembangunkehidupandanmemakmurkannyasetelah

itu, diataspemahamanini

ِ ﺮَ ﻜْ ﻨُ ﻤْﻟﺍ ِ ﻦَ َ ﻥﻮُ ﻫﺎﱠﻨﻟﺍَﻭ ِ ﻑﻭُ ﺮْ ﻌَ ﻤْﻟﺎِﺑ َ ﻥﻭُ ﺮِ ﻣَ ْ ﻵﺍ

(Yang MenyuruhBerbuatMakrufdan

MencegahBerbuatMungkar)

  • SaatdaulahIslam masihberdiri, makaamarma’rufnahi

munkardenganmencermatikesalahandanpenyimpangan

darimanhajAllah dansyari’atNya

  • SaatinimakaAMAR MA’RUF:

– Usaha-usahauntukmengkonsolidasikan, mengkoordinasikan, dan

memobilisasisumber-sumberpositifkonstruktifdalamJamaah,

umat, bangsadankemanusiaanuntukproduksikebajikanbagi

kedamaian

  • NAHI MUNKAR

– Bekerjasecarasistematikmempersempit, memarjinalisasidan

meminimalisasiruanggerakkemungkarandanefeknya, sehingga

perannyarendah

ﻰَﻨْ ﻌَﻣ ُ ﻖْ ﻴِﻘْ ﺤَﺗِ ﻦْ ﻴَﺗَ ﺩﺎَﻬﱠﺸﻟﺍ

Realisasi Makna Syahadatain(2)

RealisasiSyahadatain

  • Padamaterisebelumnyadisampaikanbahwarealisasi

syahadatainadalahadanyahubunganyang kuatantara

seorangmu’mindanAllah SWT

  • Hubunganitumeliputi:

–Hubungancinta

–Hubunganperniagaan

–Hubungankerja

  • Dalammateriiniakandibahasrealisasisyahadataindarisisi

pribadiyang mengikrarkansyahadatkondisipribadiyang

dapatmerealisasikansyahadatain

Manhaj yang Benar( ُ ﺢْ ﻴِ ﺤﱠ ﺼﻟَﺍ ُ ﺝﺎَ ﻬْ ﻨِ ﻤْﻟَﺍ)

  • Pemikiranyang Islamimampumerumuskanpanduandan

pedomanyang benar( ُ ﺢْ ﻳِ ﺣﱠ ﺻ ﻟَﺍ ُ ﺝ ﺎَ ﻬْ ﻧِ ﻣْﻟَﺍ)

  • Panduandanpedomanyang benariniakanmenuntun

umatIslam dalambertindaksehinggamenghasilkan

tindakanyang benar

  • Seorangdokterperlupanduandalammendiagnosis

penyakitpasien, kemudianmemutuskanobatyang mesti

diminum, sertamemberikanaturanminumnyaagar pada

waktuyang diprediksisipasienbisasembuhdari

penyakitnya

  • Islam memilikimanhajyang lengkapdalamberbagai

bidangkehidupan: akidah, akhlak, sosial, politik, budaya,

pendidikan, iptek, dll

124

ُ ﺏَﻼِﻘْﻧِ ﻻﺍَﻭ ُﺔَ ﻐْ ﺒﱢ ﺼﻟَﺍ

Pencetakan dan Perubahan

PerubahanPerilaku( ﻲِ ﻛْ ﻮُﻠﱡ ﺴ ﻟَﺍ)

  • Perilaku= tindaktanduk
  • SistemperilakudalamIslam dilandasiolehakidahyang bersih

–Jauhdariperilakusetan: tukangtipu

–Jauhdariperilakubinatang:

  • Binatangbuas: pemarahsepertianjing(7:176)
  • Binatangternakyang memperturutkansyahwatnya(7:179, 47:12)
  • Seoranglaki-lakitidakbolehmeniru-niruperilakuwanita, dan

sebaliknya(HR. Ahmad)

  • Tidakbolehmenyerupaiperilakuorangkafir( َ ﻭُ ﻬَﻓ ٍﻡْ ﻭَﻘِﺑ َ ﻪﱠ ﺑَ ﺷَ ﺗ ْ ﻥَ ﻣْ ﻡُ ﻬْ ﻧِ ﻣ) HR. Abu Dawud

Pribadi Muslim (ُﺔﱠﻴِ ﻣَﻼْ ﺳِ ﻻَﺍ ُﺔﱠﻴِ ﺼْ ﺨﱠ ﺸﻟَﺍ)

  • Jikasudahterjadiperubahanpada

–Keyakinannyamenjadikeyakinantauhid

–Pemikirannya

–Perasaannya

–Perilakunya

  • MakaberartitelahterbentukkepribadianIslam

(ُﺔﱠ ﻳِ ﻣَﻼْ ﺳِﻻَﺍ ُﺔﱠ ﻳِ ﺻْ ﺧﱠ ﺷ ﻟَﺍ)

  • JadiuntukmembentukpribadiMuslim harusdimulai

Darisyahadatain

Nilai(ُﺔَ ﻤﱢﻴَﻘْﻟَﺍ)

  • PribadiMuslim inilahpribadiyang bernilai, bermutudi

mataAllah danRasulNyasertaumatIslam semuanya

  • Pribadiyang berkualitasinilahyang akanmembawaIslam

padakejayaannya(24:55)

–Menjadikhalifah(penguasa) dimukabumidenganmembawa

rahmatbagisemestaalam

–Tamkin(kekokohan) dalamagama diatasagama-agama lainnya

–Menghadirkanrasa amansehinggaperempuanbisabepergian

tanpamahramtanpaadagangguanapapun

–SemuamanusiaberibadahkepadaAllah tanpasyirik

  • Kenyataannya, musuh-musuhIslam jugamemilikitentaratentarayang berkualitasjugakalaukitatidakberkualitas,

kalah!

Resume pertemuan 5 Pendidikan Agama

مَعْنَى اْلإِلَهِ

Kandungan Kata “Ilah”

 

Kata ILAH

  • Terdiri atas tiga hurup: alif, laam, dan haa
  • Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab maka ALIHA itu memiliki beberapa arti
    • Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
    • Memohon perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
    • Yang dituju karena rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
    • Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
    • Mengabdi (عَبَدَهُ)

 

Tenang/Tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)

  • Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”
  • Seorang Muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangkan dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah

 

Memohon Perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)

  • Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kecuali Allah”
  • Hadits: meski semua makhluk melindungi seseorang tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tertimpa bencana. Begitu pula sebaliknya

 

Yang Dituju Karena Rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)

  • Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dituju karena rindunya kecuali Allah”
  • اللهُ غَايَتُنَا Allah tujuan kami

 

Paling Dicintai/Dirindukan (وُلِعَ بِهِ)

  • Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dicintai atau dirindukan kecuali Allah”
  • Boleh kita cinta anak, harta, dan yang lainnya, tapi yang paling dcintai haruslah Allah
  • Kenapa cintai tertinggi harus kepada Allah?
    • Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan
    • Menuruti tuntutan anak, istri, dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan Allah

 

Mengabdi (عَبَدَهُ)

  • Ini arti ilah yang merangkum semua arti ilah di atas
  • Karena mengabdi berarti
    • Merasa tenang
    • Minta perlindungan
    • Menuju karena rindunya
    • Mencintai
  • Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah”

 

Tuntutan Pengabdian

  • Pengabdian itu tercapai kalau dilakukan dengan
    • Sempurna dalam mencintai (كَمَالُ الْمَحَبَّةِ)
      • Merasa asyik bersamanya
      • Berlama-lama bersamanya
    • Sempurna dalam menghinakan diri (كَمَالُ التَّذَلُّلِ)
      • Kerendahan yang paling rendah adalah saat sujud

 

Ilah itu X

  • Dari keterangan arti ilah secara bahasa, maka ilah itu bisa apa saja à ilah itu X
  • X jadi ilah kalau
    • Diharapkan (اَلْمَرْغُوْبُ) karunia dan pahalanya atas segala jerih payahnya
    • Ditakuti (اَلْمَرْهُوْبُ) siksanya (intimidasi, teror, ancaman); X biasanya punya fasilitas dunia
    • Diikuti (اَلْمَتْبُوْعُ) perintah dan larangannya yang bertentangan dengan Allah (42:21 à X buat syariat lalu diikuti, X = ilah)
    • Dicintai (اَلْمَحْبُوْبُ) sama atau lebih tinggi dari pada cintanya kepada Allah

 

Setia (اَلْوَلاَءُ)

  • إِلاَّ fungsi sebagai pengecualian (الإِسْتِثْنَاءُ) tapi karena ada لا (meniadakan) maka fungsinya sebagai اَلإِثْبَاتُ (mengokohkan)
  • اَلله adalah Dzat yang dikokohkan (اَلْمُثْبَتُ)

Keduanya mengandungkan maksud agar kita memberikan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata (اَلْوَلاَءُ)

 

Maksud اَلْوَلاَءُ

  • Seperti al-Bara, maka al-Wala juga mengandung empat unsur
    • Mematuhi (اَلطَّاعَةُ)
    • Mencintai (اَلْمَحَبَّةُ)
    • Menolong (اَلنَّصْرةُ)
    • Dekat (اَلْقُرْبُ)
  • Setia dan loyal kepada Allah disertai ketaatan, cinta, pertolongan dan kedekatan kepadaNya

 

Menghancurkan (اَلْهَدْمُ)

  • Kalau kita memusuhi dan membencinya, maka pasti kita tidak ingin lagi ia wujud
  • Maka akan menghancurkannya, dengan penghancuran total, sampai ke akar-akarnya!

 

Membina (اَلْبِنَاءُ)

  • Kalau kita mencintaiNya, mentaatiNya, menolongNya dan selalu ingin dekat denganNya, maka tentu kita akan terus membina kesucianNya
  • Siapa pun yang hendak menggangguNya, maka kita siap maju pantang mundur membelaNya
  • Kita siap menjadi tentaraNya

 

IKHLAS

  • Ikhlas tercapai manakala semua ilah lain selain Allah dihancurkan, hanya Allah saja yang dikokohkan
  • Seorang yang baik لاإله إلاالله –nya, maka pasti akan menjadi MUKHLIS
  • Ini juga berarti hanya orang ikhlas sajalah yang bisa membangun, sementara yang lainnya pasti melakukan kerusakan (2:11-12)

 

Tentara Fikrah dan Akidah

  • Imam Syahid Hasan al-Banna mengartikan ikhlas dengan menjadi tentara fikrah dan akidah (جُنْدِي فِكْرَة وَعَقِيْدَة )

Setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan

 

Syarat Orang Beriman Jadi Wali

  • Orang-orang beriman yang bisa berikan kepadanya wala kita memiliki syarat-syarat:
    • Mendirikan shalat
    • Menunaikan zakat
    • Tunduk (kepada Allah)

 

Syahadatain vs Ideologi Jahiliyah

  • Ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi Islam yang bersih itu bersumber dari syahadatain
  • Sedangkan Non-Islam berasal dari pemikiran-pemikiran atau ideologi jahiliyah
    • Ideologi yang tumbuh dari tumpukan dosa-dosa
    • Padahal dosa itu menimbulkan bintik hitam (نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ) dalam hati (83:14)
    • Apabila tidak dibersihkan dengan taubat, maka akan menutupi hati (2:7)
    • Akhirnya dosa itu ditetapkan sebagai hukum

 

Hadits Nuktah Sauda

ِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

“Sesungguhnya hamba apabila melakukan kesalahan, maka dititikkan di dalam hatinya titik hitam. Apabila dia menghilangkan dan beristighfar serta bertaubat, maka bersihlah hatinya. Apabila kembali (berdosa) ditambahlah noda hitam dalam hatinya hingga menutupinya. Itulah “rona” yang disebutkan Allah [83:14]” (HR Tirmidzi)

 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا

يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

  • Ada 4 kesalahan konsep yang didasarkan pemikiran jahiliyah
    • Hidup hanya di dunia
    • Hidup dan mati karena lifetime (waktu)
    • Mereka jahiliyah (tidak memiliki ilmu tentang kehidupan)
    • Dasarnya bukan ilmu tapi dugaan saja

مَرَاحِلُ التَّفَاعُلِ بِالشَّهَادَتَيْنِ

Tahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain

 

Cinta yang Dituntut (مُقْتَضَيَاتُ الحُبِّ)

  • Cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ)
  • Mencintai apa yang dicintai Allah dan RasulNya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)

Membenci apa yang dibenci Allah dan RasulNya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)

 

 

Ridho (اَلرِّضَى)

  • Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan RIDHO
  • Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
  • Siapa yang harus kita ridhoi?
    • Allah sebagai Robb kita
    • Islam sebagai agama kita
    • Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita

 

Bermula dari Ridho kepada Allah

  • Kalau kita ridho kepada Allah, maka harus ridho kepada agama yang telah diturunkan oleh Allah (ISLAM)
  • Ridho kepada Islam menuntut untuk ridho kepada yang membawa Islam, yakni Muhammad SAW sebagai nabi dan Rasul
  • Ridho kepada Allah juga berarti harus ridho kepada orang yang diutus oleh Allah, yaitu Muhammad SAW

 

Hadits Ridho

َاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridho Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul” (HR Muslim)

 

JASAD (جَسَدًا)

  • Jasad yang tershibghah dengan shibghah Allah akan AKTIF DENGAN AMAL ISLAMI (عَمَلاً)
  • Tidak pasif dan malas
  • Perumpamaan: seperti pohon yang terus-menerus berbuah tanpa kenal musim (14:24-25)

 

Satu atau Dua Bulan

  • Kadang-kadang seorang Al-Akh menghabiskan waktu satu atau dua bulan di tempat yang jauh dari keluarga, rumah, istri, dan anak-anaknya untuk berdakwah.
  • Di malam hari ia menjadi penceramah, sedangkan di siang hari menjadi perantau.
  • Sehari berada di bukit, hari berikutnya sudah di lembah.
  • Ia menyampaikan enam puluh kali ceramah dari wilayah di ujung timur sampai di ujung barat.
  • Acara-acara itu kadang-kadang mampu menghadirkan ribuan orang dari berbagai kalangan dan penjuru.

Namun, ia selalu berpesan agar hal itu tidak disiar-siarkan.

 

Syahadatain untuk Perubahan (التَّغْيِيْرُ)

  • Syahadatain yang benar mampu merubah seseorang: berubah menjadi pribadi baru
  • Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI YANG ISLAMI (الشَّخْصِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ)
    • Pribadi yang diwarnai dengan warna syahadatain
    • Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
  • Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan dengan yang lain

 

by : Moh Triyanto

Resume pertemuan 4 pendidikan Agama

Assalamualaikum wr.wb

kali ini membahas tentang KANDUNGAN SYAHADAT

Pendidikan Agama

Yasin Efendi, S.Kom, M.Kom

 

ﺓَﺩَﺎﻬﱠﺸُ ﺍﻟﻝْﻮْﻟُﺪَﻣ

Kandungan syahadat

Syahadatain

أﺷﻬﺪ أن ﻻإﻟﻪ إﻻ اﷲ

و أﺷﻬﺪ أن ﳏﻤﺪا رﺳﻮل اﷲ

Apa arti kata

“asyhadu”?

3 Arti Syahadah (“asyhadu”)

1.Pernyataan ( ُنْﻼَﻋِْ اَﻹ)

2.Sumpah ( ُﻢَﺴَﻘاَﻟْ)

3.Janji ( ُﺪْﻬَﻌاَﻟْ)

Syahadah Artinya PERNYATAAN

  • Bahasa Arabnya: ُﺭَﺍﺭْﻗﺍَﻹِ atau ُﻥْﻼَﻋﺍَﻹِ (dalam bahasa

Indonesia: Iklan, yang seharusnya membacanya I’lan

bukan iklan)

  • “Asyhadu” berarti “aku menyatakan”
  • Kalau dihubungkan dengan kalimat syahadat maka

artinya “aku menyatakan bahwa tidak ada ilah

kecuali Allah, dan aku menyatakan bahwa

Muhammad adalah utusan Allah”

Syahadat Artinya SUMPAH

  • Kandungan kedua dari syahadat adalah

SUMPAH

  • Bahasa Arabnya: ُﻡَﺳَﻘْﻟﺍَ
  • “Asyhadu” berarti “aku bersumpah”
  • Dihubungkan dengan kalimat syahadat maka

artinya “aku bersumpah bahwa tidak ada ilah

kecuali Allah, dan aku bersumpah bahwa

Muhammad adalah utusan Allah”

Syahadah Artinya JANJI

  • Kandungan ketiga syahadat adalah JANJI
  • Bahasa Arabnya: ُﻕَﺎﺛْﻳِﻣْﻟﺍَ atau ُﺩْﻬَﻌْﻟﺍَ
  • “Asyhadu” berarti “aku berjanji”
  • Dihubungkan dengan syahatain maka artinya

“aku berjanji bahwa tidak ada ilah kecuali

Allah, dan aku berjanji bahwa Muhammad

adalah utusan Allah”

Allah Mengingatkan

  • Kenapa kita tidak ingat?
  • Saat kita umur satu tahun saja kita tidak ingat,

apalagi saat di dalam kandungan

  • Biasanya ibu kita yang menceritakan saat kita

kecil, baru kita tahu

  • Dalam hal ini Allah mengingatkan kepada kita

semua tentang peristiwa besar ini, agar tidak

dijadikan alasan “saya lupa” (7:173)

Harus Merasa Sedang Berjanji

Orang yang membaca syahadatain harus

merasakan bahwa dirinya sedang berjanji

di hadapan Allah

Merasakan Ketiga Kandungan Ini

  • Jadi syahadat berarti pernyataan, sumpah,

dan janji

  • Orang yang bersyahadat harus menyadari

bahwa ia lagi menyatakan, bersumpah, dan

berjanji kepada Allah bahwa tidak ada ilah

kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan

Allah

  • Ini seharusnya dirasakan ketika kita membaca

syahadat saat tahiyyat dalam shalat

Komitmen Hati

Kalau kita benar-benar menghayati ketiga makna

ini, maka kita telah memiliki komitmen di dalam

hati kita  hati terikat dengan syahadatain

Kondisi Sekarang?

  • Imannya seharga Indo Mie
  • Kekuatannya imannya seperti sarang laba-laba (29:41)

padahal inilah sarang yang paling lemah ( ِﺕُﻭﻳُﺑْﻟَ ﺍﻥَﻫ ْ ﱠ ﺃَﻭﻥَ ﺇِ ﻭ

ِﺕُﻭﺑَﻛْﻧَﻌْﻟُ ﺍﺕْﻳَﺑﻟَ)

– Lemah karena tipisnya

– Kalau tebal, maka lebih kuat dari baja (dijelaskan di

film Harun Yahya)

  • Kenapa ini terjadi?
  • Karena memahami syahadatain hanya pernyataan saja

Iman yang Benar ( ﱡﻖَﺤْﻟُ ﺍﻥَﺎﻤْﻳِﻹﺍَ)

  • Iman yang benar juga harus memenuhi tiga

hal

– ِﻥَﺎﺳٌ ﺑِﺎﻟﻠﱢﺭَﺍﺭْﻗﺇِ (menyatakan dengan lisan)

– ِﺏْﻠَﻘْﻟِﺎﺑ ٌﻕْﻳِﺩْﺻَﺗ (membenarkan dengan hati)

– ِﺕَﺎﻛَﺭَﺣْﻟَ ﺍ ِ ﻭﺡِﺭَ ﺍ َﻭﺟْﻟَﻝٌ ﺑِﺎﻣَﻋ (mengamalkan dengan

anggota badan dan gerakan-gerakan)

MUNAFIK

  • Asal katanya: ُﻖَﻔﱠ اَﻟﻨـ (LUBANG DI TANAH)
  • Bintang Yarbu’ punya rumah dengan DUA

PINTU  pintu satunya adalah pintu

rahasia yang disebut َﺔٌﻘﻧَﺎﻓِ

  • Lorong Mina bahasa Arabnya Nafaq Mina

Munafik Amali ( ﱡﻲَﻠِﻤَﻌْﻟُ ﺍﻖُﻨَﺎﻓِﻤْﻟﺍ)

Empat Tanda Munafik

“Empat hal, barangsiapa semuanya ada padanya

maka dia munafik tulen. Siapa yang terdapat salah

satu dari padanya maka dia memiliki satu bagian dari

nifak hingga ia menghilangkannya. Apabila berbicara

dusta, apabila mengikat perjanjian menyalahinya,

apabila berjanji ingkar, dan apabila berselisih

curang.” (HR Muslim)

Munafik I’tiqodi ( ﱡﻱِﺩْﺘِﻘَﺎﻋِﻹُ ﺍﻖُﻨَﺎﻓِﻤْﻟﺍ)

FASIK

  • Orang munafik kalau berterusan dalam kemunafikannya

akan menjadi FASIK

  • FASIK = ِﺔَﻋِ اﻟﻄﱠﺎ َﻦﻋ ُجِ َﺎرﺨاَﻟْ (tidak mau taat)

Ciri-ciri Fasik (2:27)

  1. Merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh

– Janji itu adalah mentauhidkan Allah (7:172)

– Janji itu juga pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul

– Janji juga berupa perintah dan larangan Allah

  1. Memutuskan apa-apa yang diperintahkan supaya

dihubungkan (silaturrahim dan hubungan kekerabatan)

  1. Mengadakan kerusakan di muka bumi
  • Tiga sifat di atas sebagai tambahan tiga sifat munafik seperti

dalam hadits yang masyhur

  • Apabila mereka menang, tampaklah ke-6 sifat itu
  • Tapi apabila mereka kalah, mereka menampakkan tiga sifat

seperti dalam hadits itu

Pernyataannya Fir’aun

  • Pernyataan Fir’aun tentang pengakuan

keesaan Allah terlambat karena nafas

sudah berada di tenggorokan (10:90)

  • Tapi ini sebagai bukti bahwa akhirnya

dakwah Nabi Musa as berpengaruh juga

kepada Fir’aun

  • Kebaikan itu berakar, sedang keburukan

itu hanya ada di permukaan saja

ISTIQOMAH

  • Mu’min yang selalu menjaga lisan, hati

dan anggota badannya dengan yang

dituntut oleh Allah dan RasulNya, maka

dia berada dalam kondisi istiqomah

  • Istiqomah tidak bisa datang tiba-tiba,

tapi melalui proses

  • Itulah kenapa digunakan kata “tsumma”

(kemudian)

Istiqomah Berproses

ﱠﻡُﺛ ﱠُﷲ َﺎﻧﱡﺑَﺭ َﺎﻟُﻭﺍﻗ َﻥِﻳﺫﱠ ﺍﻟﱠﻥﺇِ

ُﻭﺍﻣَﺎﻘَﺗْﺳﺍ

Sesungguhnya orang-orang yang

mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”

kemudian mereka meneguhkan

pendirian mereka (41:30, 46:13)

Balasan Bagi Yang Istiqomah

  • Keberanian
  • Tenang
  • Optimis
  • Bahagia Sejati

Resume materi agama pertemuan 2

Assalamu’allaikum Wr. Wb…
postingan kali ini meresumekan Materi Agama Pertemuan 2

  • Agama Universal

Ajaran islam bersifat universal dan berlaku setiap zaman. Keabadian dan keaktualan islam telah dibuktikan sepanjang sejarahnya, dimana setiap kurun waktu dan perkembangan peradabn manusia senantiasa dapat dijawab tuntas oleh ajaran islam melalui Al-qur;an sebagai landasannya.

Keuniversalan ajaran islam pada hakikatnya terwujud dari hal yang paling mendasar dan pokok dari seluruh konsep islam, yaitu keyakinan akan keesaan Allah dan Tauhidullah. Konsep tauhidullah adalah konsep khas Islam dan menjadi asas yang paling esensial dalam seluruh system islam yang dapat melahirkan jiwa kaum muslimin meredeka dari intervensi, penekanan, dan intimidasi manusia lain.

  • Islam adalah agama yang universal/integral/menyeluruh atau agama yang SYAMIL
  • Kemenyeluruhan atau universalitas Islam (syumuliyyatul Islam) meliputi segala aspek
  • Paling tidak, ada 3 aspek syumuliyyatul Islam
  1. Universal dari segi MASA (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)
  2. Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ)
  3. Universal dari segi TEMPAT (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)

Universal dari segi MASA (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)

Dari Masa ke Masa:

  • Islam adalah agama manusia pertama (Nabi Adam AS) dan para nabi dan rasul setelahnya, sampai berakhir pada Nabi Muhammad SAW
  • Jadi Islam adalah agama dari masa ke masa, tidak pernah terputus
  • Orang Yahudi mengklaim mereka mengikuti Nabi Musa AS, padahal Nabi Musa AS beragama Islam
  • 10:84 وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
  • 7:126 maka tukang sihir yang beriman kepada Nabi Musa AS adalah orang-orang Islam

Islam Agama Satu-satunya:

  • Allah SWT menegaskan bahwa sebutan MUSLIMIN (orang-orang Islam) bukan sebutan baru bagi umat Nabi Muhammad SAW, tapi seluruh pengikut para Nabi dan Rasul disebut Muslimin
  • Islam adalah satu-satunya agama yang berasal dari Wahyu Allah (3:19, 85)
  • Tak mungkin Allah menetapkan lebih dari satu agama yang perbedaannya jauh sekali dan bertentangan ajaran-ajarannya

– Islam berasaskan tauhid dan syirik menjadi dosa paling besar

– Nasrani menganut trinitas (3 tuhan) dan tidak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul

– Yahudi tidak mengakui Isa AS dan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul; membenci malaikat Jibril

Kesatuan Risalah:

  • Islam menyeluruh dari zaman ke zaman karena adanya kesatuan risalah para Rasul yang diutus Allah SWT
  • 21:25 misi para rasul adalah sama: akidah dan ibadah
  • Tidak ada dari rasul yang kemudian mendirikan agama baru, dengan penyembahan yang baru, misalnya menyembah dirinya (3:79)
  • Bahkan Al-Qur’an itu sudah disebut-sebut di kitab-kitab sebelumnya (26:196)

Risalah Penutup:

  • Kesatuan risalah (misi) itu sampai dengan risalah yang dibawa oleh penutup para Nabi, Muhammad SAW (33:40)
  • Inilah risalah terakhir (penutup) sekaligus penghapus, penyempurna risalah-risalah sebelumnya
  • 9:33, 48:28, 61:9 Allah mengutus rasul itu membawa dua hal: al-Huda dan Islam (agama yang benar)

Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ)

Minhaj Islam:

  • Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah (sebagai penyokong Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas Islam).Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai agama.
  • Syumuliyyatul Islam yang kedua adalah syumuliyyatul minhaj (universalitas dari segi sistem atau tatanan)
  • Minhaj Islam memang meliputi seluruh sendi kehidupan manusia, tidak ada yang terlupakan
  • Karena itu, tidak boleh memecah-mecah ajaran Islam (sekularisme sangat ditolak dalam Islam!)

Bangunan yang Utuh:

  • Minhaj Islam laksana sebuah bangunan yang utuh ia memiliki :
  1. Pondasi (اَلأَسَاسُ)
  2. Bangunan (اَلْبِنَاءُ)
  3. Pendukung atau atap (اَلْمُؤَيِّدَاتُ)

Bangunan Islam:

  • Pondasinya adalah syahadatain
  • Tiang-tiangnya adalah empat rukun Islam lainnya: shalat, puasa, zakat, hajji à apakah bangunan yang hanya pondasi dan tiang sudah cukup? Ada yang mau tinggal di situ?
  • Dinding-dindingnya ada empat:
    • Sistem sosial (الإجتماعي)
    • Sistem politik (السياسي)
    • Sistem ekonomi (الإقتصادي)
    • Sistem budaya (الثقافي)
  • Atapnya adalah jihad fi sabilillah

Minhaj yang Utuh (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ):

  • Secara lebih sederhana, minhaj yang utuh yang diserupakan dengan bangunan

yang utuh, terdiri dari:

  1. Pondasi: akidah
  2. Bangunannya: ibadah dan akhlak
  3. Atapnya: jihad dan dakwah

Pondasi atau Asas:

  • Asas bangunan Islam adalah asas yang paling kokoh: AQIDAH yang terangkum

dalam syahadatain (rukun Islam pertama) dan enam rukun Iman.

  • inilah perbandingan antara asas aqidah (takwa) dan asas lainnya
    • Bangunan yang didirikan atas asas akidah akan kokoh
    • Bangunan berasas yang lainnya akan roboh dan jatuh ke jurang berbahaya sekali

Jenis Pondasi:

  • Keperluan akan tingkat kekuatan pondasi bergantung pada bangunan yang akan didirikan di atasnya
    • Warung berdinding anyaman bambu cukup tanah
    • Rumah biasa kedalaman satu meter cukup
    • Pencakar langit?
  • Bagaimana dengan Islam? Islam adalah tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam bangunan tertinggi pondasinya mesti super kuat
  • Wajar kalau Rasulullah SAW membuat pondasi ini memerlukan waktu lebih banyak (13 tahun) dibanding bangunannya itu sendiri

Bangunan (Al-Bina):

  • Bangunan ini didirikan di atas pondasi akidah yang kokoh akan berdiri tegak
  • Intinya ada dua:
  1. IBADAH dalam arti luas: mahdhah (khusus, ritual) dan ‘ammah (semua perbuatan baik, termasuk empat dinding-dinding tadi)
  2. AKHLAK: tata pergaulan antara manusia dengan Allah, sesamanya, lingkungan, dan juga dirinya sendiri

Pendukung atau Atap:

  • Pendukung atau atap yang akan melindungi penghuninya dari panas dan hujan, adalah JIHAD dan DAKWAH.
  • meninggalkan jihad dan dakwah, umat Islam kehilangan perlindungan dan hancur

serta terpecah-pecah, khususnya sejak 1924 (jatuhnya khilafah Islamiyah terakhir)

Dakwah:

  • Dakwah adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam sesuai dengan

kemampuannya (3:104)

  • Manusia yang paling mulia adalah yang berdakwah (41:33)

Universal dari segi TEMPAT (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)

Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan.Pencipta alam ini hanya Allah saja.Karena berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan kepada-Nya.

  • Islam berlaku untuk segala tempat (seluruh dunia)
  • Segala tempat di bumi ini mesti tegak Islam di atasnya
  • Jadi, tidak ada hak manusia mengusir orang-orang Islam

pengusiran adalah pelanggaran (22:40)

  • 90:2 Makkah adalah halal untuk tempat tinggal Rasulullah, tapi orang-orang

kafir mengusir beliau SAW

Satu Pencipta (وَحْدَةُ الْخَالِقِ):

  • Kenapa Islam itu menyeluruh untuk seluruh penjuru dunia?
  • Karena alam ini, termasuk dunia ini, diciptakan oleh Allah saja, tidak andil

yang lainnya (46:3)

  • Adanya hanya satu Pencipta ini juga yang menyebabkan alam semesta ini

terjaga dengan baik

  • Kalau ada dua Allah saja, pastilah hancur bumi dan langit ini (21:22)

Kesatuan Alam (َحْدَةُ الْكَوْنِ):

  • Karena Penciptanya satu, maka alamnya juga satu 2:29
  • Tidak ada alam lain yang diciptakan oleh pencipta yang lain
  • 67:15 Allah yang menciptakan bumi
  • Jadi Islam-lah satu-satunya yang Allah berlakukan di bumi Allah ini (3:19)
  • Pedoman Hidup
  • Karena Islam menyeluruh dari segi masa, tatanan dan tempat, maka Islam-lah yang pantas menjada tatanan hidup (way of life) manusia seluruhnya
  • 2:185 Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia:

Bukti tepatnya Islam sebagai pedoman hidup adalah berubahnya Arab jahiliyah menjadi Muslimin yang menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru alam (21:105)

10 Sistem Hidup:

  • Secara rinci, ada 10 sistem hidup dalam Islam

Sistem keyakinan (اَلاِعْتِقَادِيُّ):

  • Islam memiliki sistem keyakinan yang disebut TAUHID
  • Sistem keyakinan selain Islam terkotori oleh berbagai kemusyrikan.

Contoh: meyakini bahwa Allah memiliki anak (subhanallah ‘ammaa yusyrikuun)

Sistem akhlak (اَلأَخْلاَقِيُّ):

  • Akhlak adalah wajah Islam, sehingga sangat ditekankan untuk diperhatikan oleh Rasulullah
  • Akhlak dalam Islam lengkap, meliputi kepada Allah, sesamanya, dan alam semesta

Sistem perilaku (اَلسُّلُوْكِيُّ):

  • Perilaku = tindak tanduk
  • Sistem perilaku dalam Islam dilandasi oleh akidah yang bersih
  • Jauh dari perilaku setan: tukang tipu
  • Jauh dari perilaku binatang:
    • Binatang buas: pemarah seperti anjing (7:176)
    • Binatang ternak yang memperturutkan syahwatnya (7:179, 47:12)
  • Seorang laki-laki tidak boleh meniru-niru perilaku wanita, dan sebaliknya

(HR. Ahmad)

Sistem perasaan (اَلشُّعُوْرِيُّ):

  • Islam juga memiliki sistem perasaan yang khas
    • Benci dan cinta karena Allah
    • Marah dan ridho karena Allah
    • Mendukung dan memusuhi karena Allah
  • Islam membenci dendam dan fanatisme (ashabiyah)

Sistem pendidikan (اَلتَّرْبَوِيُّ):

  • Tidak ada agama yang paling mendorong umatnya untuk berusaha keras

dalam menuntut ilmu kecuali Islam

  • Rasulullah memfardhukan menuntut ilmu, dari buaian hingga liang lahat
  • Kenapa sekarang umat Islam mundur? Sistem pendidikannya sudah jauh

dari sistem pendidikan Islam

 Sistem sosial (اَلاِجْتِمَاعِيُّ):

  • Islam tidak mengakui sistem kelas atau kasta
  • Semua manusia di mata Islam sama, yang berbeda adalah takwanya (49:13)

Ikatan-ikatan berikut ditata oleh Islam (49:13)

  • Ikatan sesama Muslim : ukhuwwah Islamiyah
  • Ikatan sesama Bangsa : ukhuwwah wathaniyah (para Rasul memanggil kekauman mereka 7:59, 65,73,85 يَا قَوْمِ )
  • Ikatan sesama manusia : ukhuwwah basyariyah (Allah pun memanggil kemanusiaan manusia يَا أَيُّهَا النَّاسُ 2:21)

Sistem politik (اَلسِّيَاسِيُّ):

  • Sistem politik Islam adalah yang paling maju sampai hari ini
    • Syuro sebagai cara menyelesaikan masalah (3:159, 42:38)
    • Kepemimpinan yang dihormati (4:59)
    • Negara (34:15)
    • Umat atau rakyat yang taat (4:59)

Sistem ekonomi (اَلاِقْتِصَادِيُّ):

  • Prinsip-prinsip ekonomi Islam
  1. Pemerataan (59:7) كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ : Islam melarang monopoli. Cara pemerataan: zakat, infaq, waris, baitul maal. Ini permasalahan inti, bukan karena jumlah penduduk seperti teori Maltus
  2. Anti penindasan :melarang riba 2:275. Sekarang ini prinsip bank syari’ah sudah diterapkan di mana-mana, bahkan Inggris pun pakai

Sistem militer (اَلْعَسْكَرِيُّ):

  • Islam sangat memperhatikan masalah kekuatan dan kedisiplinan (waktu-waktu shalat)
  • Yang khas, Islam memiliki adab berperang: tidak boleh menyerang musuh sebelum melakukan 3 hal :
  1. Menawarkan masuk Islam
  2. Membayar jizyah
  3. Perang

Sistem hukum perundang-undangan (اَلْجِنَائِيُّ):

  • Kelebihan sistem hukum Islam dibandingkan dengan hukum positif (اَلْحُكْمُ الْوَضْعِي)
  1. Kaedah hukum Islam elastis dan global
  2. Kaedah dan teksnya dibuat lebih tinggi

Kesempurnaan Agama Islam

Islam merupakan agama yang syamil (sempurna) yang berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia.Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj(mencakup semuanya), dan syumuliyatul makan (semua tempat).

semoga bermanfaat…
Terima Kasih…
Wassalamu’allaikum Wr. Wb…

Agama

soal!!!

  1. Makna Islam,
    2. Apa maksud darii menundukan wajah dalam Islam?
    3. Apa Maksud Selamat Sejahtera?
    4. Apa maksud dari Al Islamu ya lu walaa yu’la alaihi..?

Jawab:

  1. Pengertian Islam Menurut Al-Quran

Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman.

Pengertian Islam secara  harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salama)
.
Pengertian Islam menurut Al-Quran tercantum dalam sejumlah ayat.

1. Islam berasal dari kata “as-silmu ” yang artinya damai 
“dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Anfal:61).

2. Islam berasal dari kata “aslama ” yang artinya menyerahkan diri (pasrah). 
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya” (QS. An-Nisa:125).

3. Islam berasal dari kata “istalma mustaslima ” yang artinya penyerahan total kepada Allah.
”Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri” (QS. Ash-Shaffat:26 )

4. Islam berasal dari kata “saliimun salim ” yang artinya bersih dan suci.
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syu ‘ ara:89 )

5. Islam berasal dari kata “salamun ” yang artinya selamat. 
“Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (QS. Maryam:47).

Pengertian Islam menurut Al-Quran tersebut sudah cukup mengandung pesan bahwa kaum Muslim hendaknya cinta damai, pasrah kepada ketentuan Allah SWT, bersih dan suci dari perbuatan nista, serta dijamin selamat dunia-akhirat jika melaksanakan risalah Islam. Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

  1. Menundukkan Pandangan dalam Islam

Penulis: Ustadz Firanda Andirja

“Mencuci mata” sudah menjadi kebiasaan dan budaya banyak orang terutama di kalangan para muda. Nongkrong di pinggir jalan untuk “mencuci mata”, menikmati pemandangan alam yang indah dan penuh pesona sudah menjadi adat sebagian orang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah alam apakah yang sedemikian indahnya sehingga menjadikan para pemuda begitu banyak yang tertarik dan terkadang mereka nongkrong hingga berjam-jam? Ternyata alam tersebut adalah wajah manis para wanita. Apalagi sampai terlontar dari sebagian mereka pemahaman bahwa memandang wajah manis para wanita merupakan ibadah dengan dalih, “Saya tidaklah memandang wajah para wanita karena sesuatu (hawa nafsu), namun jika saya melihat mereka saya berkata, “Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Ini jelas merupakan racun syaithan yang telah merasuk dalam jiwa-jiwa sebagian kaum muslimin. Pada hakekatnya istilah yang mereka gunakan (cuci mata) merupakan istilah yang telah dihembuskan syaithan pada mereka. Istilah yang benar adalah “Mengotori mata”.

Kebiasaan yang sudah merebak seantero dunia ini memang sulit untuk ditinggalkan. Bukan cuma orang awam saja yang sulit untuk meninggalkannya bahkan betapa banyak ahli ibadah yang terjerumus ke dalam praktek “ngotori mata” ini. Masalahnya alam yang menjadi fokus pandangan sangatlah indah dan dorongan dari dalam jiwa untuk menikmati pesona alam itupun sangat besar.
Oleh karena itu penulis mencoba untuk memaparkan beberapa perkara yang berkaitan dengan hukum pandangan, semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan juga bagi saudara-saudaraku para pembaca yang budiman.

Fadhilah menjaga pandangan

Menjaga pandangan mata dari memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah merupakan akhlak yang mulia, bahkan Rasulullah s.a.w menjamin masuk surga bagi orang-orang yang salah satu dari sifat-sifat mereka dalah menjaga pandangan.
Abu Umamah berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اُكْفُلُوا لِي بِسِتٍ أَكْفُلْ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ, إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَكْذِبْ, وَ إِذَا اؤْتُمِنَ فَلاَ  يَخُنْ, وَ إِذَا وَعَدَ فَلاَ يُخْلِفْ, غُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ, وَكُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ, وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ
 

“Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”

Bahkan orang jahiliyahpun mengetahui bahwa menjaga pandangan adalah akhlak yang mulia. Berkata ‘Antarah bin Syaddad seorang penyair di zaman jahiliyah:
وَأَغُضُّ طَرْفِي مَا بَادَتْ لِي جَارَتِي           حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا
 

“Dan akupun terus menundukkan pandanganku tatkala tampak istri tetanggaku sampai masuklah dia ke rumahnya”
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Al-’Abbad –Hafidzohumulloh- berkata,”Inilah salah satu akhlak mulia yang dipraktekkan oleh orang pada zaman jahiliyah, namun yang sangat memprihatinkan justru kaum muslimin di zaman sekarang meninggalkannya.”

Menjaga pandangan di zaman sekarang ini sangatlah sulit

Menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang memang perkara yang sangat sulit apalagi di zaman sekarang ini. Hal-hal yang diharamkan untuk dipandang hampir ada disetiap tempat, di pasar, di rumah sakit, di pesawat, bahkan di tempat-tempat ibadah. Majalah-majalah, koran-koran, televisi (ditambah lagi dengan adanya parabola), gedung-gedung bioskop penuh dengan gambar-gambar seronok dan porno alias para wanita yang berpenampilan vulgar. Wallahul Musta’an…

Bagaimana para lelaki tidak terjebak dengan para wanita yang aslinya merupakan keindahan kemudian bertambah keindahannya tatkala para wanita tersebut menghiasi diri mereka dengan alat-alat kecantikan, dan lebih bertambah lagi keindahannya jika yang menghiasi adalah syaithan yang memang ahli dalam menghiasi para wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
المَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
 

“Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syaitan memandangnya”

Berkata Al-Mubarokfuuri, “Yaitu syaitan menghiasi wanita pada pandangan para lelaki, dan dikatakan (juga) maksudnya adalah syaitan melihat wanita untuk menyesatkannya dan (kemudian) menyesatkan para lelaki dengan memanfaatkan wanita tersebut sebagai sarana…”

Diantara penyebab terjangkitinya banyak orang dengan penyakit ini, bahkan menimpa para penuntut ilmu, karena sebagian mereka telah dibisiki syaithan bahwasanya memandang wanita tidaklah mengapa jika tidak diiringi syahwat. Atau ada yang sudah mengetahui bahwasanya hal ini adalah dosa namun masih juga menyepelekannya. Yang perlu digaris bawahi adalah banyak sekali orang yang terjangkit penyakit ini dan  mereka terus dan sering melakukannya dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun, atau minimalnya mereka tetap meremehkan hal ini, padahal ada sebuah kaedah penting yang telah kita ketahui bersama yaitu

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإصْرَار

Tidak lagi disebut dosa kecil jika (perbuatan maksiat itu) dilakukan terus menerus.

Hukum memandang wajah wanita yang bukan mahram.

Dari Jarir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu , ia berkata,
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَِصْرِفَ بَصَرِيْ
“Saya bertanya  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahan aku untuk memalingkan pandanganku”

Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,
يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ
 

“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)”

Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membonceng Al-Fadl lalu datang seorang wanita dari Khots’am. Al-Fadl memandang kepada wanita tersebut –dalam riwayat yang lain, kecantikan wanita itu menjadikan Al-Fadl kagum- dan wanita itu juga memandang kepada Al-Fadl, maka Nabipun memalingkan wajah Al-Fadl kearah lain (sehingga tidak memandang wanita tersebut)…”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadl sehingga tidak lagi memandang wajah wanita tersebut, jelaslah hal ini menunjukan bahwa memandang wajah seorang wanita (yang bukan mahram) hukumnya haram.

Bahayanya Tidak Menjaga Pandangan Mata.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظْرُ
 

“Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan”

Penamaan zina pada pandangan mata terhadap hal-hal yang haram merupkan dalil yang sangat jelas atas haramnya hal tersebut dan merupakan peringatan keras (akan bahayanya), dan hadits-hadits yang semakna hal ini sangat banyak

Allah berfirman,
قلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ….
 

Katakanlah kepada para lelaki yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”, dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka…..

Hingga firman Allah diakhir ayat…
وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
 

Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semoga kalian beruntung. (An-Nuur 30-31)

Berkata Syaikh Utsaimin,“Ayat ini merupakan dalil akan wajibnya bertaubat karena tidak menundukan pandangan dan tidak menjaga kemaluan -menundukkan pandangan yaitu dengan menahan pandangan dan tidak mengumbarnya- karena tidak menundukkan pandangan dan tidak menjaga kemaluan merupakan sebab kebinasaan dan sebab kecelakaan dan timbulnya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
 

Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada finah para wanita.

وَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء
Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah fitnah wanita.

Oleh karena itu musuh-musuh Islam bahkan musuh-musuh Allah dan RasulNya dari golongan Yahudi, Nasrani, orang-orang musyrik, dan komunis, serta yang menyerupai mereka dan merupakan antek-antek mereka , mereka semua sangat ingin untuk menimpakan bencana ini kepada kaum muslimin dengan (memanfaatkan) para wanita. Mereka mengajak kepada ikhtilath (bercampur baur) antara para lelaki dan para wanita dan menyeru kepada moral yang rusak. Mereka mempropagandakan hal itu dengan lisan-lisan mereka, dengan tulisan-tulisan mereka, serta dengan tindak-tanduk mereka -Kita berlindung kepada Allah- karena mereka mengetahui bahwa fitnah yang terbesar yang menjadikan seseorang melupakan Robnya dan melupakan agamanya hanyalah terdapat pada wanita.

Dan para wanita memberi fitnah kepada para lelaki yang cerdas sebagaimana sabda Nabi,
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَ دِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
 

“Tidak pernah aku melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih membuat hilang akal seorang lelaki tegas dari pada salah seorang dari kalian (wahai para wanita)”.

Apakah engkau ingin (penjelasan) yang lebih jelas dari (penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang gamblang) ini?

Tidak ada yang lebih dari para wanita dalam hal melalaikan akal seorang laki-laki yang tegas, lalu bagiamana dengan pria yang lemah, tidak memiliki ketegasan, tidak memiliki semangat, tidak memiliki agama dan kejantanan? Tentunya lebih parah lagi.

Namun seorang pria yang tegas dibuat “teler” oleh para wanita –kita mohon diselamatkan oleh Allah- dan inilah kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu setelah Allah memerintah kaum mukminin untuk menundukan pandangan Allah berkata,
وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
 

Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semoga kalian beruntung.

Maka wajib atas kita untuk saling  menasehati untuk bertaubat dan hendaknya saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya apakah seseorang diantara kita telah bertaubat ataukah masih senantiasa tenggelam dalam dosa-dosanya, karena Allah mengarahkan perintah untuk bertaubat kepada kita semua.

Perintah Allah secara khusus untuk bertaubat dari tidak menjaga pandangan mata menunjukan bahwa hal ini bukanlah perkara yang sepele. Pandangan mata merupakan awal dari berbagai macam malapetaka. Barangsiapa yang semakin banyak memandang kecantikan seorang wanita yang bukan mahramnya maka semakin dalam kecintaannya kepadanya hingga akhirnya akan mengantarkannya kepada jurang kebinasaannya, Wal ‘iyadzu billah.

Berkata Al-Marwazi,“Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal), Seseorang telah bertaubat dan berkata ,”Seandainya punggungku dipukul dengan cambuk maka aku tidak akan bermaksiat”, hanya saja dia tidak bisa meninggalkan (kebiasaan tidak menjaga) pandangan?”, Imam Ahmad berkata, “Taubat macam apa ini”?

Berkata Syaikh Muhammad Amin, “Dengan demikian engkau mengetahui bahwasanya firman Allah  يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ (Dia mengetahui pandangan mata yang berhianat) merupakan ancaman terhadap orang yang berkhianat dengan pandangannya yaitu dengan memandang kepada perkara-perkara yang tidak halal baginya”

Berkata Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini  يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ (Dia mengetahui pandangan mata yang berhianat), “Seorang pria berada bersama sekelompok orang. Kemudian lewatlah seorang wanita maka pria tersebut menampakkan kepada orang-orang yang sedang bersamanya bahwa dia menundukkan pandangannya, namun jika dia melihat mereka lalai darinya maka diapun memandang kepada wanita yang lewat tersebut, dan jika dia takut ketahuan maka diapun kembali menundukkan pandangannya. Dan Allah telah mengetahui isi hatinya bahwa dia ingin melihat aurat wanita tersebut.”

Dari Abdullah bin Abi Hudzail berkata, “Abdullah bin Mas’ud masuk dalam sebuah rumah mengunjungi seseorang yang sakit, beliau bersama beberapa orang. Dan dalam rumah tersebut terdapat seorang wanita maka salah seorang dari mereka orang-orang yang bersamanya memandang kepada wanita tersebut, maka Abdullah (bin Mas’ud) berkata kepadanya,“Jika matamu buta tentu lebih baik bagimu””

Jangankan memandang paras ayu sang wanita, bahkan memandangnya dari belakangnya saja, atau bahkan hanya memandang roknya saja bisa menimbulkan fitnah. Akan datang syaithan dan mulai menghiasi sekaligus mengotori benak lelaki yang memandangnya dengan apa yang ada di balik rok tersebut. Jelaslah pandangannya itu mendatangkan syahwat.

Berkata Al-‘Ala’ bin Ziyad, “Janganlah engkau mengikutkan pandanganmu pada pakaian seorang wanita. Sesungguhnya pandangan menimbulkan syahwat dalam hati”

Demikianlah sangat takutnya para salaf akan bahayanya mengumbar pandangan, dan perkataan mereka ini bukanlah suatu hal yang berlebihan, bahkan bahaya itupun bisa kita rasakan. Namun yang sangat menyedihkan masih ada di antara kita yang merasa dirinya aman dari fitnah walaupun mengumbar pandangannya. Hal ini tidaklah lain kecuali karena dia telah terbiasa melakukan kemaksiatan, terbiasa mengumbar pandangannya, sehingga kemaksiatan tersebut terasa ringan di matanya. Dan ini merupakan ciri-ciri orang munafik. Berkata Abdullah bin Mas’ud r.a,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعٍِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
 

“Seorang mu’min memandang dosa-dosanya seperti gunung yang ia berada di bawah gunung tersebut, dia takut (sewaktu-waktu) gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun seorang munafik memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang terbang melewati hidungnya lalu dia pun mngusir lalat tersebut.”

Bahkan tatkala seseorang sedang melaksanakan ibadah sekalipun, hendaknya dia tidak merasa aman dan tetap menjaga pandangannya.

Berkata Al-Fadl bin ‘Ashim,”Tatkala seorang pria sedang thawaf di ka’bah tiba-tiba dia memandang seorang wanita yang ayu dan tinggi semampai, maka diapun terfitnah disebabkaan wanita tersebut, hatinyapun gelisah. Maka diapun melantunkan sebuah syair,

Aku tidak menyangka kalau aku bisa jatuh cinta….tatkala sedang thawaf mengelilingi rumah Allah yang diberi “kiswah”…
Hingga akhirnya akupun ditimpa bencana maka jadilah aku setengah gila…
Gara-gara jatuh cinta kepada seorang seorang wanita yang parasnya menawan laksana rembulan…
Duhai…sekirainya aku tidak memandang elok rupanya

Demi Allah apa kiranya yang bisa aku harapkan dari pandanganku dengan memandangnya? “

Berkata Ma’ruf Al-Kurkhi , “Tundukkanlah pandangan kalian walaupun kepada kambing betina”
Berkata Sufyan At-Tsauri menafsirkan firman Allah وَخُلِقَ الإِنْساَنُ ضَعِيْفًا (Dan manusia dijadikan bersifat lemah 4,28), “Seorang wanita melewati seorang pria, maka sang pria tidak mampu menguasai dirinya untuk menunudukkan pandangannya pada wanita tersebut…maka adakah yang lebih lemah dari hal ini?”

Berkata seorang penyair ,”Namun kadang seorang pria tak berdaya, tekuk lutut dibawah kerling mata wanita”

Praktek para salaf dalam menjaga pandangan.

Dari Al-Mada’ini dari syaikh-syaikh beliau berkata, “Sebagian orang pemerintahan di Bashrah hendak bertemu dengan Dawud bin Abdillah, maka Dawudpun pergi (menuju Bashrah)  dan singgah di rumah salah seorang sahabat beliau yang terletak di pinggiran Bashrah. Sahabatnya ini adalah seorang yang sangat pencemburu. Dia memiliki seorang istri yang bernama Zarqaa’ yang cantik jelita. Pada suatu saat sahabatnya ini keluar karena ada suatu keperluan, maka diapun berpesan kepada istrinya  untuk bersikap ramah dan melayani Dawud. Tatkala kembali kerumahnya diapun berkata kepada Dawud, “Bagaimana menurutmu dengan si Zarqaa’?, bagaimana sikap ramahnya kepadamu?”. Dawud berkata, “Siapa itu Zarqaa’?”, dia berkata, “Yang mengurusimu dirumah ini”. Dawud berkata, “Saya tidak tahu dia si Zarqaa’ atau si Kahlaa’?”. Lalu istrinya menemuinya maka diapun marah dan berkata, “Aku telah berpesan kepadamu agar ramah  dan melayani Dawud, lalu mengapa tidak kau lakukan pesanku?”. Istrinya berkata, “Engkau telah berpesan kepadaku untuk melayani seorang yang buta, demi Allah dia sama sekali tidak melirik kepadaku!”

Dari Muhammad bin Abdillah Az-Zarraad berkata, “Hassaan (bin Abi Sinan) keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied, tatkala dia kembali dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, kami tidak  melihat hari raya ‘ied yang wanitanya paling banyak (keluar ikut shalat ‘ied) dari pada ‘ied tahun ini! Dia berkata,“Tidak ada seorang wanitapun  yang bertemu denganku hingga aku kembali!”. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa tatkala dia kembali istrinya berkata kepadanya, “Berapa wanita cantik yang engkau lihat hari ini?” (Hasan diam tidak menjawab) namun tatkala istrinya terus mendesaknya diapun berkata, “Celaka engkau! saya tidak melihat kecuali pada jempol kakiku semenjak saya keluar darimu hingga saya kembali kepadamu!”

Berkata Sufyan,“Ar-Robi’ bin Khutsaim selalu menundukkan pandangannya. (Pada suatu hari)  lewatlah di depannya sekelompok wanita maka diapun menundukkan kepalanya hingga para wanita tersebut menyangka bahwa dia buta. Para wanita tersebutpun berlindung kepada Allah dari (ditimpa) kebutaan”

Salaf tidak hanya menjaga pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan, bahkan mereka juga menjaga pandangan mereka dari hal-hal yang tidak perlu.

Seorang laki-laki berkata kepada Dawud At-Tha’i, “Sebaiknya engkau memerintahkan (seseorang) untuk membersihkan sarang laba-laba yang ada di langit-langit rumah”!, Dawud berkata, “Tidakkah engkau tahu bahwasanya memandang yang tidak perlu itu dibenci?”, lalu Dawud berkata,“Aku dikabarkan bahwa dirumah Mujahid lantai dua ada sebuah kamar, namun Mujahid tidak tahu sama sekali selama tiga puluh tahun.”

Hal ini menunjukan kesungguhan salaf dalam menjaga pandangan mereka, sampai-sampai sarang laba-laba yang dilangit-langit rumah dan kamar yang ada di lantai atas rumah mereka tidak mereka katahui, karena mereka tidak memandang kepada hal-hal yang tidak perlu sehingga mereka tidak memandang ke atas karena tidak ada perlunya.  Barangsiapa yang membiasakan dirinya mengumbar pandangannya untuk memandang hal-hal yang tidak perlu maka suatu saat dia akan memandang hal yang diharamkan oleh Allah. Sungguh jauh berbeda antara salaf dengan sebagian kita yang tatkala berjalan matanya jelalatan ke sana kemari.

Akibat buruk tidak menundukkan pandangan mata.

Ibnul Qoyyim berkata, “Kebanyakannya maksiat itu masuk kepada seorang hamba melalui empat pintu, yang keempat pintu tersebut adalah kilasan pandangan, betikan di benak hati, ucapan, dan tindakan. Maka hendaknya seorang hamba menjadi penjaga gerbang pintu bagi dirinya sendiri pada keempat gerbang pintu tersebut, dan hendaknya ia berusaha terus berjaga ditempat-tempat yang rawan ditembus oleh musuh-musuh yang akibatnya merekapun merajalela (berbuat kerusakan) di kampung-kampung kemudian memporak-porandakan dan meruntuhkan semua bangunan yang tinggi. Adapun pndangan maka dia adalah pembimbing (penunjuk jalan) bagi syahwat dan utusan syahwat. Menjaga pandangan merupakan dasar untuk menjaga kemaluan, barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka dia telah mengantarkan dirinya terjebak dalam tempat-tempat kebinasaan. Pandangan merupakan sumber munculnya kebanyakan malapetaka yang menimpa manusia, karena pandangan melahirkan betikan hati kemudian berlanjut betikan di benak hati menimbulkan pemikiran (perenungan/lamunan) lalu pemikiran menimbulkan syahwat kemudian syahwat melahirkan keinginan kemudian menguat kehendak tersebut hingga menjadi ‘azam/tekad (keinginan yang sangat kuat) lalu timbullah tindakan –dan pasti terjadi tindakan tersebut- yang tidak sesuatupun yang mampu mencegahnya. Oleh karena itu dikatakan “kesabaran untuk menundukan pandangan lebih mudah daripada kesabaran menahan kepedihan yang akan timbul kelak akibat tidak menjaga pamdangan”.

Berkata seorang penyair

كُلُّ الْحَوَدِثِ مَبْدَأُهَا مِنَ النَّظْرِ            وَمُعْظَمُ النَّارِ مِن مُسْتَصْغِرِ الشِّرَرِ

كَمْ نَظْرَةٍ بَلَغَتْ فِيْ قَلْبِ صَاحِبِهَا         كَمَبْلَغِ السَّهْمِ بَيْنَ الْقَوْسِ وَالْوَتْرِ

وَالْعَبْدُ مَا دَامَ ذَا طَرْفٍ يَقْلِبُهُ              فِي أَعْيُنِ النَّاسِ مَوْقُوْفٌ عَلَى الْخَطْرِ

يَسُرُّ مُقْلَتَهُ مَا ضَرَّ مُهْجَتَهُ                  لاَ مَرْحَبًا بِسُرُوْرٍ عَادَ بِالضَّرَرِ

Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan…….dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil

Betapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang…..sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya

Selama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak-balikan (umbar)……maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia

Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwanya…..sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.

Diantara akibat tidak menjaga pandangan yaitu menimbulkan penyesalan yang sangat mendalam dan hembusan nafas yang panjang (tanda penyesalan) serta kesedihan dan kepahitan yang dirasakan. Seorang hamba akan melihat dan menghendaki sesuatu yang ia tidak mampu untuk meraihnya dan dia tidak mampu untuk bersabar jika tidak mampu meraihnya, dan hal ini merupakan ‘adzab (kesengsaraan dan penderitaan) yang sangat berat, yaitu engkau menghendaki sesuatu yang engkau tidak bisa menahan kesabaranmu untuk mendapatkannya bahkan engkau tidak bisa sabar walaupun untuk mencicipi sedikit yang kau inginkan tersebut padahal engkau tidak memiliki kemampuan untuk meraihnya. Betapa banyak orang yang mengumbar kilasan pandangannya maka tidaklah ia melepaskan kilasan-kilasan pandangan tersebut kecuali kemudian ia terkapar diantara kilasan-kilasan pandangan yang dilepaskannya itu. Yang sungguh mengherankan kilasan pandangan yang diumbar merupakan anak panah yang tidak sampai menancap kepada yang dipandang agar yang dipandang menyiapkan tempat untuk hati sipemandang…yang lebih mengherankan lagi bahwasanya pandangan menggores luka yang parah pada hati sipemandang kemudian luka tersebut tidak berhenti bahkan diikuti dengan luka-luka berikutnya (karena berulangnya pandangan yang diumbar oleh si pemandang-pen) namun pedihnya luka tersebut tidaklah menghentikan sipemandang untuk berhenti mengulang-ulang umbaran pandangannya. Dikatakan “Menahan umbaran pandangan lebih ringan dibanding penyesalan dan penderitaan yang berkepanjangan…”.

Berkata Ibnul Qoyyim, “Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke mesjid untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan sholat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya dan menjumpainya. Wanita itupun berkata, “Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”, pria tersebut berkata, “Aku menghendaki dirimu”, sang wanita berkata, “Kenapa kau menghendaki diriku?”, pria itu berkata, “Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku”, sang wanita berkata, “Aku tidak akan memnuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”, pria itu berkata, “Aku akan menikahimu”, sang wanita berkata, “Engkau beragam Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu”, pria itu berkata, “Saya akan masuk dalam agama nasrani”, sang wanita berakta, “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agam nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”. Maka masuklah pria tersebut ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala ditengah hari tersebut (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah tersebut-pen) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan tertentu-pen) lalu iapun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati wanita  tersebut dan telah meninggalkan agamanya”.

Berkata Ibnu Katsir, “Ibnul Jauzi menyebutkan dari ‘Abduh bin Abdirrohim, beliau berkata, “Lelaki celaka ini dahulunya seorang yang sering berjihad di jalan Allah memerangi negeri Rum, namun pada suatu saat di suatu peperangan tatkala pasukan kaum muslimin mengepung suatu daerah di negeri Rum (dan kaum Rum bertahan di benteng mereka-pen), dia memandang seorang wanita Rum yang berada dalam benteng pertahanan mereka maka diapun jatuh cinta kepada wanita tersebut. Lalu diapun menulis surat kepada wanita itu, “Bagaimana caranya agar aku bisa berjumpa dengan engkau?”. Wanita tersebut menjawab, “Jika engkau masuk ke dalam agama nasrani dan engkau naik bertemu  denganku”. Maka iapun memenuhi permintaan sang wanita”. Dan tidaklah pasukan kaum muslimin kembali kecuali ia tetap berada di sisi wanita tersebut. Kaum muslimin sangat sedih tatkala mengetahui akan hal itu, dan hal ini sangat berat bagi mereka. Tak lama kemudian mereka (pasukan kaum muslimin) melewatinya dan dia sedang bersama wanita tersebut dalam benteng,  mereka berkata kepadanya, “Wahai fulan, apa yang dilakukan oleh hafalan Qur’anmu?’ apa yang dilakukan oleh amalanmu?, apa yang dilakukan puasamu?, apa yang dilakukan oleh jihadmu?’ apa yang dilakukan oleh sholatmu?”, maka iapun menjawab, :”Ketahuilah aku telah dilupakan Al-Qur’an seluruhnya kecuali firman Allah “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. 15:32-3)”, sekarang aku telah memiliki harta dan a nak di tengah-tengah mereka.”

Ibnul Qoyyim menyebutkan, “Ada seorang pria yang akan meninggal dikatakan kepadanya, “Katakan lal ilaaha illallaah!”, diapun berkata, “Dimana jalan menuju kawasan pemandian umum Minjab?”. Ibnul Qoyyim berkata, perkataannya ini ada sebabnya yaitu pria ini sedang berdiri di depan rumahnya dan pintu rumahnya mirip dengan pintu kawasan pemandian umum Minjab. Lalu lewatlah seorang wanita yang berparas ayu dan bertanya kepadanya, “Dimana jalan menuju kawasan pemandian umum Minjab?”. Pria tersebut menjawab, “Ini adalah kawasan tempat pemandian umum Minjab (padahal itu adalah rumahnya)”. Maka masuklah sang wanita ke dalam rumahnya dan diapun masuk juga dibelakang sang wanita. Tatkala sang wanita mengetahui bahwa di telah masuk ke dalam rumah sang pria dan dia telah tertipu maka sang wanita menampakkan kepada pria tersebut kegembiraan dan rasa riang dengan berkumpulnya dia dengan sang pria. Sang wanita berkata, “Sungguh baik jika bersama kita sesuatu yang mengindahkan hari kita dan menyenangkan mata”. Pria tersebut berkata, “Tunggulah sebentar aku akan datang membawa semua yang kau kehendaki dan kau inginkan”. Maka sang priapun keluar dengan meninggalkan sang wanita sendiri di rumahnya dan dia tidak mengunci pintu rumah. Lalu iapun mengmbil semua yang dibutuhkan dan kembali kerumahnya namun ia mandapatkan sang wanita telah keluar dan pergi –dan sang wanita sama sekali tidak mengkhianati pria tersebut-. Maka sedihlah sang pria dan selalu mengingat wanita tersebut, dan dia berjalan di jalan-jalan dan lorong-lorong sambil berkata:
يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ        كَيْفَ الطَّرِيْقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ

Duhai, kapan ada suatu hari dimana sang wanita yang dalam keadaan letih berkata, “Bagaimanakah jalan menuju kawasan pemandian umum Minjab?”

Maka tatkala suatu hari dia sedang mengucapkan hal itu tiba-tiba ada seorang wanita yang menjawabnya dari belokan jalan, dia berkata

‘Kenapa engkau tidak segera menjaga rumah atau menjaga pintu takala engkau telah mendapatkan sang wanita?”

Maka bertambahlah kesedihannya, dan demikian terus kondisinya hingga akhirnya bait syair inilah adalah perkataannya yang terakhir di dunia”

Dari Ibnu Abbas r.a, beliau berkata,“Datang seorang laki-laki ke Rasulullah s.a.w dalam keadaan berlumuran darah, maka Rasulullah s.a.w berkata kepadanya,“Ada apa dengan engkau”? Dia berkata,“Wahai Rasulullah ! seorang wanita lewat di depanku maka akupun memandangnya, aku terus memandangnya hingga akhirnya aku menabrak tembok maka jadilah apa yang engkau lihat sekarang (aku berlumuran darah). Rasulullah s.a.w berkata,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ عُقُوْبَتَهُ فِي الدُّنْيَا

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada hambanya maka Ia menyegerakan hukuman baginya di dunia”

Berkata Amr bin Murrah,”Saya memandang seorang wanita yang membuatku terkagum-kagum, lalu matakupun buta, maka saya berharap kebutaanku ini adalah hukuman bagiku.”

Abu Abdillah bin Al-Jalla’ pernah suatu ketika tidak menjaga pandangannya, lalu datang seseorang menegurnya seraya berkata kepadanya, “Engkau akan merasakan akibatnya walaupun di hari kelak”. Dia baru merasakan akibatnya empat puluh tahun setelah kejadian tersebut. Dia berkata,“Maka aku menemui akibat perbuatanku setelah empat puluh tahun, aku dijadikan lupa Al-Qur’an”

Para salaf bisa merasakan bahwa sebagian musibah yang menimpa  mereka merupakan akibat dari kemaksiatan yang telah mereka lakukan, walaupun kemasiatan tersebut jauh telah lama terjadi. Hal ini dikarenakan mereka jarang melakukan kemaksiatan sehingga mereka ingat betul kemakisatan-kemaksiatan yang telah mereka lakukan. Adapun sebagian orang zaman sekarang, jika ditimpa musibah mereka tidak tahu apa sebab musibah tersebut, bahkan sama sekali tidak terlintas dalam benak mereka bahwa musibah tersebut merupakan akibat ulah perbuatan (maksiat) mereka. Kalaupun mereka merasakan bahwa musibah yang menimpa mereka dikarenakan kemaksiatan, mereka tidak tahu kemaksiatan yang manakah yang mendatangkan musibah tersbut. Hal ini dikarenakan terlalu banyak dan beraneka ragamnya kemaksiatan yang telah mereka lakukan sampai-sampai mereka lupa dengan kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.

Renugkanlah wahai saudaraku…lihatlah pria ini, Allah telah memberikannya anugrah kepadanya dan memuliakannya dengan menjadikannya menghapal Al-Qur’an, lalu diapun menyia-nyiakan anugrah tersebut dengan suatu pandangan yang diharamkan oleh Allah. Jika telah hilang ketakwaan maka akan hilang ilmu, sebagaimana ketakwaan merupakan sebab utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Meninggalkan ketakwaan merupakan sebab utama terhalangnya ilmu yang bermanfaat.

Berkata Imam As-Syafi’i
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ     فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ              وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَاصِي
 

Aku mengadu kepada imam Waki’ tentang buruknya hapalanku   maka beliaupun mengarahkan aku untuk meninggalkan kemaksiatan.


Ia mengabarkan kepadaku bahwasanya ilmu adalah cahaya…..dan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.


Kiat-kiat penting dalam menjaga pandangan mata.

1 Selalu mengingat bahwasanya Allah selalu mengawasi perbuatanmnu, dan hendaknya engkau malu kepada Allah tatkala bermaksiat kepadanya dengan mengumbar pandanganmu. Dimana saja engkau berada Allah pasti mengawasimu. Tatkala engkau di kamar sendiri dihadapan komputer, tatkala engkau sedang membuka internet, sedang membuka lembaran-lembaran majalah.

2 Ingatlah bahwa matamu akan menjadi saksi atas perbuatanmu pada hari kiamat. Janganlah engkau jadikan matamu sebagai saksi bahwa engkau telah memandang hal yang haram, namun jadikanlah dia sebagai saksi bahwasanya engkau menundukkan pandanganmu karena Allah

3 Ingatlah ada malaikat yang mengawasimu dan mencatat seluruh perbuatanmu. Jangan sampai malaikat mencatat bahwa engkau telah memandang wanita yang tidak halal bagimu. Malulah engkau kepada malaikat tersebut.

4 Ingatlah bahwa bumi yang engkau pijak tatkala engkau mengumbar pandanganmu juga akan menjadi saksi atas perbuatanmu.

5 Ingatlah akan buah dan faedah-faedah dari menjaga pandangan. Berkata Mujahid, “Menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah menimbulkan kecintaan kepada Allah”[39]. Yakinlah jika engkau menahan pandanganmu maka Allah akan menambah cahaya imanmu, dan engkau akan semakin bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah. Shalatmu akan bisa lebih khusyuk

Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari melihat hal-hal yang haram maka dia akan meraih faedah-faedah berikut ini:

1)    Menyelamatkan hati dari pedihnya penyesalan karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka akan berkepanjangan penyesalan dan penderitaannya. Pandangan ibarat bunga api yang menimbulkan besarnya nyala api

2)    Menimbulkan cayaha dan kemuliaan di hati yang akan nampak di mata, di wajah, serta di anggota tubuh yang lain

3)    Akan menimbulkan firasat (yang baik) bagi orang yang menjaga pandangannya. Karena firasat bersal dari cahaya dan merupkan buah dari cahaya tersebut. Maka jika hati telah bercahaya akan timbuk firasat yang benar karena hati tersebut akhirnya ibarat kaca yang telah dibersihkan.

4)    Akan membukakan baginya pintu-pintu dan jalan-jalan ilmu

5)    menimbulkan kekuatan hati  dan keteguhan hati serta keberanian hati

6)    Menimbulkan kegembiraan dalam hati dan kesenangan serta kelapangan dada yang hal ini lebih nikmat dibandingkan keledzatan dan kesenangan tatkala mengumbar pandangan.

7)    Terselamatkannya hati dari tawanan syahwat

8)    Menutup pintu diantara pintu-pintu api neraka jahannam karena pandangan adalah pintu syahwat yang mengantarkan seesorang untuk mengambil tindakan (selanjutnya yang lebih diharamkan lagi-pen). Adapun menunundukkan pandangan menutup pintu ini

9)    Menguatkan akal dan daya fikir serta menambahnya dan menegarkannya karena mengumbar pandangan tidaklah terjadi kecuali karena sempitnya dan ketidakstabilan daya pikir dengan tanpa memperhitungkan akibat-akibat buruk yang akan timbul.

10) Hati terselamatkan dari mabuk kepayang karena syahwat dan mampu menolak hantaman kelalaian. Allah berfirman tentang orang-orang yang mabuk kepayang: “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. (QS. 15:72)

Cara Menundukkan Pandangan

1). Berupaya bersungguh-sungguh untuk membiasakan diri menjaga pandangan. Dan barang siapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar. Jika jiwamu terbiasa menundukkan pandangan maka kelak akan menjadi mudah bagimu. Walaupun pada mulanya memang terasa sangat sulit, namun berusahalah!

2). Menjauhi tempat-tempat yang rawan timbulnya fitnah pandangan, walaupun akibat dari menjauhi tempat-tempat tersebut engkau luput dari sebagian kemaslahatanmu. Jika engkau ingin membuka internet bawalah teman yang bisa menasehatimu sehingga engkau tidak memandang hal-hal yang terlarang, Sesungguhnya jika engkau membukanya sendiri maka syaithan lebih mudah menjerumuskanmu. Jauhilah engkau dari menonton film dan sinetron dengan dalih untuk mengisi waktu luang dan untuk rileks. Demikian juga janganlah engkau mendekati hal-hal yang merupakan sarana mengumbar aurat wanita hanya karena alasan untuk mengikuti berita dan mengikuti perkembangan informasi dunia.

3). Jauhkan dirimu dari melihat hal-hal yang tidak perlu, dengan cara ketika engkau berjalan hendaknya engkau memandang kebawah kearah jalanmu, dan jangan engkau mengumbar pandanganmu ke kanan, ke kiri, dan kebelakang. Karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya pasti dia akan terjerumus untuk memandang perkara yang diharamkan oleh Allah.

4). Banyak membasahi lisan dengan dzikir kepada Allah, karena dzikir merupakan benteng dari gangguan syaitan. Biasakanlah dirimu dengan membaca dzikir pagi dan petang demikian juga dengan dzikir-dzikir yang lain, terlebih lagi di kala fitnah aurat wanita berada di hadapannya hingga engkau bisa menolak gangguan syaitan. Dengan berdzikir maka engkau akan tersibukkan mengingat kebesaran Allah sehingga tidak terlintas keinginan memandang hal-hal yang haram. Dengan berdzikir engkau akan semakin malu kepada Allah untuk memandang perkara yang tidak halal bagimu.

5). Jika engkau belum menikah maka menikahlah. Sesungguhnya dalam pernikahan terlalu banyak manfaat untuk membantu engkau menundukkan pandanganmu

6). Jika engkau telah beristri ingatlah bahwa dengan mengumbar pandangan syaitan menjadikan engkau tidak menikmati apa yang telah Allah halalkan bagimu. Syaitan menghiasi perkara yang haram yang telah engkau lihat dengan seindah-indahnya padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Barang siapa yang menjaga pandangannya maka dia akan menemukan kenikmatan pada apa yang telah dihalalkan Allah baginya.

7). Pengorbananmu dengan menahan matamu dari memandang hal-hal yang menawan namun diharamkan bagimu, akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik lagi bagimu. Rasulullah  bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلاَّ أَبْدَلَكَ اللهُ مَا هُوَ خَيرٌ لَكَ مِنْهُ
 

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah akan menggantikan bagi engkau yang lebih baik darinya”

Jika yang akan engkau pandang adalah wanita yang cantik dan molek ingatlah bahwa Allah akan menggantikannya dengan yang jauh lebih cantik, molek dan montok, ketahuilah! dialah bidadari. Ingatlah janji yang Allah berikan pada orang-orang yang bertakwa yaitu bidadari di surga yang kecantikannya tidak bisa dibandingkan dengan wanita di dunia. Betapapun engkau berusaha untuk membayangkan kecantikannya dan kemolekan tubuhnya, maka engkau tidak akan pernah bisa membayangkannya. Bidadari lebih cantik dan lebih molek dan lebih menawan dari yang kau khayalkan karena sesungguhnya Allah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang bertakwa di surga apa yang tidak pernah mereka lihat, dan tidak pernah mereka dengar dan tidak pernah terlintas dalam benak mereka.

8). Hendaknya engkau selalu mengingat nikmat yang telah Allah berikan kepadamu, dan engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat tersebut, untuk apakah nikmat tersebut engkau manfaatkan? Pandangan mata adalah nikmat yang luar biasa, tentunya bentuk syukur engkau atas nikmat pandanganmu itu hendaknya enggau gunakan untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah. Berkata Ibnul Jauzi,“Fahamilah wahai saudaraku apa yang akan aku wasiatkan kepadamu. Sesungguhnya matamu adalah suatu nikmat yang Allah anugrahkan kepadamu, maka janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dengan karunia ini. Gunakanlah karunia ini dengan menundukkannya dari hal-hal yang diharamkan, niscaya engkau akan beruntung. Waspadalah! Jangan sampai hukuman Allah (karena engkau tidak menjaga pandangan) menghilangkan karuniaNya tersebut. Waktumu untuk berjihad dalam menundukkan pandanganmu terfokus pada sesaat saja. Jika engkau mampu melakukannya (menjaga pandanganmu di waktu yang sesaat tersebut) maka engkau akan meraih kebaikan yang berlipat ganda dan engkau selamat dari keburukan yang berkepanjangan”.[43]Jika engkau memang telah terlanjur memandang wanita yang tidak halal engkau pandangi dan hatimu telah terkait dengannya, sulit untuk melupakannya maka beristigfarlah kepada Allah dan berdoalah kepada Allah agar engkau bisa melupakannya. Berkata Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Furu’,[44] “Dan hendaknya orang yang berakal menjauhi sikap mengumbar pandangan karena mata melihat apa yang tidak ia mampui (apalagi) yang dipadangnya bukan pada hakikat yang sebenarnya. Bahkan terkadang hal itu menyebabkan mabuk kepayang maka rusaklah tubuhnya dan juga agamanya. Barangsiapa yang terkena musibah seperti ini maka hendaknya ia memikirkan aib-aib para wanita. Ibnu Mas’ud berkata,

إِذَا أًَعْجَبَتْ أَحَدَكُمْ امْرَأَةٌ فَلْيَذْكُرْ مَنًاتِنَهَا وَمَا عِيْبَ نِسَاءُ الدُّنْيَا بَأَعْجَبَ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالىَ }وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجُ مُطَهَّرَةُ|

“Jika seorang wanita membuat salah seorang dari kalian takjub maka hendaknya ia mengingat hal-hal yang bau dari wanita tersebut, sungguh tidak ada yang lebih menakjubkan tentang aibnya para wanita di dunia dengan firman Allah |وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ} (dan untuk mereka di surga istri-istri yang suci)”,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَ مِنْ شَرِّ بَصَرِي وَ مِنْ شَرِّ لِسَانِيْ وَ مِنْ شَرِّ قَلْبِي وَ مِنْ شَرِّمَنِيِّ

Ya Allah aku berlindung kepadamu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan pandanganku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan maniku (kemaluanku)[46]

————————-
Daftar Pustaka,

  1. Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    2. Syarah Riadhus Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin, Darul Bashirah
    3. Adhwaa’ul Bayaan, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi
    4. Al-Muntaqa min Dzamil Hawa (Ibnul Jauzi), Kholid Abu Shalih, Darul Wathan
    5. Sihaamul A’yun, DR. Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin
    6. Al-Kabai’ir, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman, maktabah Al-Furqon
    7. Sur’atul ‘Iqob liman Kholafa As-Sunnah wal Kitab, Abu ‘Ammar Muhammad bin Abdillah Bamusa, darul Iman.
    8. Manarus sabil, karya Ibnu Dhouyan, tahqiq ‘Ishom Al-Qol’aji, terbitan Maktabah Al-Ma’arif
    9. Al-Minhaj syarh shahih Muslim, Imam An-Nawawi, darul Ihyaut Turots, cetakan kedua
    10. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokfuri, Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi
    11. Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, Maktabah Ma’arif Beiruut
    12. Raudhatul Muhibbin, karya Ibnul Qoyyim, tahqiq Sayyid ‘Imron, terbitan Darul Hadits
    13. Silsilatul Ahadits Ad-Dho’ifah, Syaikh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif

Sumber: muslim.or.id

  1. Assalamu alaikum

Assalamua’laikum (السلام عليكم as-salāmu `alaykum) merupakan salam dalam Bahasa Arab, dan digunakan oleh kultur Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Untuk yang mengucapkan salam, hukumnya adalah Sunnah.[1] Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya.

Salam ini juga digunakan oleh kultur Kristen di Timur Tengah yang mempunyai arti “kedamaian dan kesejahteraan” bagi yang mengucapkan salam dan penerima salam tersebut. Salam ini sama dengan salam shalom aleichem dalam bahasa Ibrani.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 23: Dialah Allah, tidak ada ilaah (sesembahan) yang layak kecuali Dia, Maha Rajadiraja, yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniai rasa aman, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan.

Di dalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT. Kini, Kita akan mencoba untuk memahami arti, keutamaan dan penggunaan kata Salam.

Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah yang artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup, kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi di dalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Makna

  1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka-derita. Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan penuh kebaikan.
  2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah SWT.
  3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan kepada anda, “Aku berdoa semoga kamu sejahtera.” Maka ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan(perlakuan)-nya, lidah(lisan)-nya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan, dan harga-diri anda.

Ibnu Al-Arabi di dalam Ahkamul Qur’an mengatakan:

Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku.’

Kesimpulannya bahwa Salam berarti:

  • Mengingat (dzikr) Allah SWT,
  • Pengingat diri,
  • Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim,
  • Doa yang istimewa, dan
  • Pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’

Dalam sebuah Hadits dikatakan:

Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya

Jika kita memahami Hadits ini saja, sudahlah cukup untuk memperbaiki semua umat Muslim. Karena itu Muhammad sangat menekankan penyebaran pengucapan Salam antar sesama Muslim dan beliau menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama di antara perbuatan-perbuatan baik yang anda kerjakan. Ada beberapa Sabda Muhammad yang menjelaskan pentingnya ucapan salam antar seluruh Muslim.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang di antara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (Muslim)

Abdullah bin Amr RA mengisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani) Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86:

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim. Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum.” Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan “Wa’alaikum salaam wa rahmah” Orang kedua datang dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah” Maka Rasulullah membalas dengan, “Wa’alaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh” . Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.” Rasulullah SAW menjawab: ”Wa’alaika”.

Orang yang ketiga pun terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan kerendah-hatian, “Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan salam yang ringkas kepadamu, engkau membalas dengan salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut Engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan wa’alaika.”

Rasulullah SAW menjawab, “Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang di jabarkan Allah di dalam Al-Qur’an.”

Hasan Al-Basri berkata: “Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban”

SUMBER: WIKIPEDIA

  1. “Al-Islamu Ya’lu wa laa yu’laa ‘alaihi.”

Sedikit mengingat kembali apa yang telah Rasulullah SAW sampaikan dalam sabda beliau: “Ballighu ‘anni walau ayyah.” (Sampaikan apa saja dariku sekalipun hanya satu ayat).Hadits di atas mengandung arti, agar kaum Muslimin memiliki ghirah (semamgat) yang tinggi dalam menyebarluaskan agama Islam ini. Hatta, sekalipun mereka hanya bermodalkan satu ayat saja, kita harus tetap memiliki spirit yang tinggi. Apalagi, kalau lebih dari itu, pastinya tak-perlu-malu-menyampaikan-kebenaran. Dan disabdanya yang lain
Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila seorang anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal iaitu:-
1] Shadaqah jariah
2] Ilmu yang bermanfaat
3] Anak shalih yang mendoakannya. .. (HR. Muslim, Abu Dawud , At-Tirmidzi , Nasa’i dan Ahmad )
Sehingga ingin rasanya menambah amalan amalan untuk bekal diri kita sendiri nantinya.
Karena “Al-Islamu Ya’lu wa laa yu’laa ‘alaihi.” (Islam itu tinggi/mulia. Dan tidak ada yang lebih tinggi/mulia dari padanya).
Jika kita lihat dalam kehidupan sekarang ini, banyak sekali manusia yang lalai. Sehingga dalam kehidupanpun mereka sering terbuai dengan halusinasi mereka sendiri. Sehingga yang ada dipikiran mereka hanyalah mencari harta dunia dan seringnya menganalisa hidup, padahal jika kita lihat miskin ataupu kaya bukanlah tolak ukur kemuliaan ataupun kebahagiaan seseorang. Berapa banyak manusia kita lihat walaupun hidupnya miskin harta tetapi hidupnya penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan sedangkan kita lihat berapa banyak orang yang hidupnya “mulia” dalam pandangan kita, ternyata begitu menderita batinnya. Banyaknya masalah yang dihadapi dan rakusnya dalam mencari harta, sehingga menyebabkan semakin jauhnya dari ketenangan hidup. Begitu banyak orang kaya yang tidur di kasur yang empuk dengan fasilitas yang complete tetapi begitu tersiksa karena begitu susah untuk bisa memejamkan mata. Dan betapa banyak orang yang miskin tetapi begitu mudah dia beristirahat, bahkan didalam becaknyapun dia bisa terlelap dalam mimpinya. Sehingga layaklah jika kita katakan dunia hanyalah permainan hanyalah bersenda gurau dan panggung sandiwara. Dan dalam kita hidup ini tidaklah begitu lama, bahkan dalan hitungan akhirat kehidupan dunia tidaklah bisa lebih dari 1 jam kita lihat dalam surat as-Sajdah ayat 5 (dalam satu hari kadarnya adalah seribu tahu dalam perhitunganmu). Sehinga bekal amalan dan rasa selalu bersyukur haruslah selalu kita kedepankan. Karena Allah tidak pernah mau menghitung berapa banyak nikmat yang telah Dia berikan, dan manusiapun selalu diminta oleh Allah untuk selalu meminta kepadaNya.

Allah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada hambanya-Nya dan kita tidak dapat menghitung berapa banyak jumlah kenikmatan yang Dia berikan kepada kita.

  1. Ibrahim:34

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ

تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

14:34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah)

Kita masih diberikan umur panjang di dunia ini oleh Allah SWT, apapun kesempatan yang Dia diberikan marilah kita gunakan sebaik-baiknya. Kita dapat mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang salah satunya dengan mengkaji agama, karena dengan agama lah Allah akan memberikan petunjuk agar selamat dunia dan akhirat. Tanda orang yang  mendapatka petunjuk dari Allah adalah mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam melaksanakan Islam dengan hati yang lapang, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah pada

QS Al-An’am: 125

فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن

يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء

كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

6:125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika (artinya : Wahai (Allah) Yang Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku diatas agamamu).

Sumber: Gembel Intelek di 05.46